Situs resmi Puri Agung Dharma Giri Utama

Hari Suci Nyepi Cetak Email
Ditulis oleh Nyoman Wisnumurti   

Hari Suci Nyepi merupakan tonggak kebangkitan kerohanian Hindu yang ditandai dengan TOLERANSI dan KERUKUNAN. Bermula dari persaingan dan pertikaian  bangsa-bangsa di kawasan Asia (sekarang antara : Tibet, Asia Tengah, Persia, Sungai Sindhu, Afganistan, Pakistan, Kashmir, Iran dan India Barat laut) antara bangsa Saka (Scythia) – Pahlava (Parthia)– Yueh-ci (Cina) – Yavana (Yunani) – Malava (India). Mereka sangat berambisi salin menaklukkan satu sama lain sebagai musuh-musuhnya. Selama berabad-abad bangsa-bangsa tadi silih berganti saling menguasai wilayah lawan-lawannya (semacam penguasaan/ penjajahan) memperebutkan daerah yang sangat subur. Akhirnya pada awal tahun 248 SM di India, bangsa Pahlava unggul dalam peperangan melawan bangsa Yavana dan Saka serta menguasai wilayah yang sangat luas.

Bangsa Saka yang kalah perang mengembara dan mampu secara cepat menyesuaikan diri dan tersebar di seluruh kawasan, namun membawa satu misi kooperatif perdamaian dengan mengedepankan aspek budaya dan humanisme. Bangsa Saka dengan seni budaya dan kombinasi ketata negaraan yang terbuka (ala demokrasi sekarang) mampu menyentuh penguasa yakni Bangsa Pahlava. Artinya bangsa Pahlava mengakui keunggulan bangsa Saka yang mengalihkan perjuangan politiknya dari mengangkat senjata (peperangan) menjadi arah politik : ideology, social-budaya yang bercirikan keharomonisan – perdamaian dengan mengangkat kesejahteraan sebagai issu global. Pergerakan humanisme sejak tahun 138 – 12 SM terjadi akulturasi dan sinkretisme antara bangsa-bangsa yang tadinya bermusuhan dan berakhir pada peperangan menuju perdamaian.

Akibat gerakan kemanusiaan membuat sikap politik bangsa-bangsa tadi berubah menjadi gerakan LOKASAMGRAHA (dunia ini rumah kita, persaudaraan semesta, Torang samua basudara). Terdapat tokoh raja Kaniska I, II dan III (tidak semuanya berasal dari bangsa Saka tapi mereka mengadopsi perjuangan bangsa Saka) dalam percaturan politik yang meraih simpati rakyat dengan gerakan kesejahteraan dan kemanusiaan tadi. Salah satu yang terkenal kemudian adalah raja Kaniska II yang pada tahun 78 SM (sebelum masehi) menetapkan tahun baru sebagai pencerahan bangsa-bangsa yang berdamai dengan memberikan penghargaan kepada bangsa Saka yang memelopori pergerakan tadi menjadi TAHUN BARU SAKA yang diperingati secara serentak oleh seluruh negeri. Tahun itu di kemudian hari menjadi tahun PENCERAHAN dan dirayakan dengan khidmat melalui TAPA BRATA SAMADHI. Di Indonesia menjadi Hari Raya Nyepi yang dilaksanakan dengan Brata Penyepian meliputi :

  1. Amati Ghni : tidak menyalakan api khususnya api hawa nafsu
  2. Amati Lelungan : tidak bepergian ke luar rumah
  3. Amati Karya : tidak melakukan aktivitas kerja
  4. Amati Lelangunan : tidak melakukan aktivitas khayalan/melamun, mengandai andai.

Perayaan Hari suci Nyepi dan Tahun Baru rangkaiannya sebagai berikut :
  1. Melasti/Makiyis : adalah prosesi spiritual keagamaan sebagai upaya penyucian alam semesta dari segala kekotoran dan kejahatan akibat dari perputaran KARMA selama 1 tahun yang penuh dengan intrik, gejolak, nafsu, dan berbagai sisi negative terhadap kemanusiaan. Penyucian ini tidak berhenti pada tatanan alam semesta, tetapi juga pada diri setiap manusia Hindu, harus menyucikan diri dan lingkungannya. Arah prosesi penyucian itu ditujukan ke arah LAUT/SEGARA, karena diyakini air bersumber di laut dan air merupakan sumber dari kehidupan. 80% tubuh kita ini terdiri dari air. Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan sejak seminggu sebelum hari raya nyepi atau maksimal 2 hari sebelum Nyepi.
  2. Tawur Kesanga : adalah upacara Bhuta Yajna, artinya korban suci yang ditujukan kepada penguasa kekuatan yang memberi kemanfaatan bagi seisi alam raya ini berupa CARU. Caru adalah kata bahasa Sanskerta yang berarti MEMPERCANTIK, MENETRALISIR, memiliki makna spiritual SOMYA yakni membuat semuanya menjadi harmonis. Caru ini berupa sesajen yang dibuat sedemikian rupa dalam rangkaian yang memiliki perhitungan magis, oleh Pendeta dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan situasi krodit/disharmoni menjadi normal/harmonis kembali. Tawur kesanga dilaksanakan sehari sebelum Nyepi tepatnya pada bulan Mati/Tilem sasih Kesanga
  3. Nyepi – Brata Penyepian : adalah hari raya Nyepi yang dilaksanakan perayaannya dengan berpuasa dan berpantang/brata. Dimulai pagi hari jam 06.00 tidak ada aktivitas berapi-api (tidak memasak, tidak menyalakan listrik, tidak menyalakan api hawa nafsu); tidak ada aktivitas bepergian ke luar rumah (berada di rumah/kamar tanpa api :NGEBLENG/samadhi, tidak berteriak/membuat kegaduhan); tidak ada aktivitas bersenang-senang (menonton TV, Video, Film atau mengkhayal ingin jadi orang kaya); tidak ada aktivitas bekerja (membajak, mencangkul, ke kantor dll sesuai profesinya) sampai jam 06.00 jadi selama 24 jam penuh aktivitas dihentikan secara total.
  4. Ngembak Gni : melakukan aktivitas kembali seperti semula atau membuka api kehidupan normal. Pada hari ini menjadi lembaran baru bagi kehidupan yang cerah penuh pencerahan rohani. Melakukan dharma santi (simakrama, silaturahmi, anjangsana, saling bermaaf-maafan).

Inti dan Makna Perayaan Nyepi :
  1. Melasti sebagai penyucian diri dan alam semesta untuk mengembalikan potensi kesucian dan kebenaran menurut ajaran wahyu Tuhan YME untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan kemanusiaan/humanisme. Laut sebagai sumber amerta karena laut/segara dipercaya dan diyakini mampu melebur segala kekotoran yang diakibatkan oleh api nafsu manusia yang berupa tindakan kotor/jahat dll.
  2. Tawur Kesanga, sebagai cara spiritual manusia Hindu memberikan makna keharmonisan hidup yang dilakukan dengan pengorbanan (Yajna) berupa Bhuta Yajna. Ungkapan terima kasih dan syukhur manusia Hindu kepada Tuhan YME sebagai penguasa kekuatan vital dan prinsip hidup untuk diberdayakan secara maksimal untuk sisi kemanusiaan, bukan untuk mengeksploitasi dan mengekplorasi alam semesta dan kemanusiaannya.
  3. Brata Penyepian, dengan amati : ghni, karya, lelungan, lelangunan, membuat hidup ini terintrospeksi secara sadar atas apa dan siapa diri ini untuk menuju arah yang ditentukan oleh ajaran agama. Selama 1 hari penuh (24 jam) aktivitas direorientasi guna memberikan pembaharuan alam semesta sehingga segenap potensinya kembali berfungsi secara maksimal. Bayangkan kota kita jika selama 1 hari tidak ditebari polutan asap kendaraan (polusi udara) dan listrik dipadamkan, aktivitas diliburkan sehari itu saja dalam setahun, berapa besar penghematan yang telah dilakukan oleh Negara, betapa bersihnya udara kota kita dan kelesuan dapat dipulihkan.
  4. Ngembak Gni, aktivitas optimal setelah discharge selama sehari secara spiritual. Memulai dengan rasa syukur sebagai mahluk sosial melalui simakrama - sosialisasi dengan sesama saling memaafkan.
 

Pengurus

Sample image Jro Mangku Panji
Pemangku
Sample image I Gusti Ngurah Suarnita
Ketua
Sample image I Gusti Ngurah Budi
Wakil Ketua
Sample image Kadek Ardi
Sekretaris 1
Sample image I Gede Sukadana
Sekretaris 2
Sample image I Wayan Sudiawan
Bendahara 1
Sample image I Gede Somada
Bendahara 2
Sample image Ni Komang Sumadi
Ketua Dharma Ayu

Hubungi kami

PURI AGUNG DHARMA GIRI UTAMA

Jl. Tegal Harum No 7 Biaung
Denpasar Timur- Bali 80237
Tel: 085 101 868 909
Email:info@dharmagiriutama.org
Web: www.dharmagiriutama.org
 
PURA PUROHITA
Lembah Dusun Benyahe,
Desa Unggahan, Seririt,
Buleleng, Bali.
Jro Mangku Wana
0878-6012-7699
Posisi anda  : Home Artikel Sejarah dan Umum Hari Suci Nyepi