Situs resmi Puri Agung Dharma Giri Utama

Perpanjangan Tangan Awatara Cetak Email

Dalam perjalanan mencari pembimbing spiritual, banyak sekali mengunjungi para Penekun. Beliau-beliau adalah orang-orang hebat dan juga sangat menyenangkan. Terkadang saya juga menemukan bahwa Beliau para Penekun ngiring Sesuhunan tertentu atau Ida Bhatara. Kebanyakan yang mereka iring adalah Tabik Kulun, Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped atau Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling yang melinggih di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Jarang sekali saya menemukan bahwa seorang Dasaran ngiring sesuhunan lebih dari satu Ida Bhatara. Tetapi Pinisepuh adalah ‘ngiringan’ banyak sekali Ida Bhatara. Mengapa? Karena Pinisepuh adalah seorang keturunan Raja yang terpilih untuk mengemban suatu tugas di Bumi Nusantara bersama-sama dengan Brahma Raja Hyang Suryo.

Raja-raja jaman Majapahit adalah Awatara dari para Dewa. Agung Yudistira adalah salah satu keturunan dari Beliau-beliau dan telah terpilih untuk mengemban suatu tugas dan misi kebangkitan Ciwa Budha. Pinisepuh berkomunikasi dan bisa melihat Beliau. Apakah Pinisepuh adalah salah satu dari kaki tangan Awatara yang ada di Bumi Indonesia?

Pinisepuh sebenarnya tidak ingin menjadi orang yang terkenal atau dikagumi. Tetapi saya sebagai umat, yang bertemu Beliau karena sakit niskala menahun, dan sembuh, ingin juga kewikanan Beliau diketahui umum karena banyaknya masalah kesehatan dan niskala yang sangat rumit di Bali.

Saya, maaf, merayu Beliau untuk mau diekpos ke dunia luar. Akhirnya Beliau setuju bahwa saya menulis semacam biographi singkat untuk Pinisepuh dengan harapan masyarakat Bali pada khususnya memahami bahwa di Bali ada manusia wikan salah satunya Pinisepuh yang barangkali setara dengan kemampuan Dalai Lama di Tibet yang mampu berkomunikasi dengan Dewata dan meneropong. Kenapa aset sedemikian berharga ini tidak dilibatkan dalam urusan skala dan niskala di Bali dalam skup lebih luas dan bukan segelintir individu? Selama ini teman dekat saja yang minta tolong kepada Pinisepuh karena diibaratkan dokter, Pinisepuh tidak buka Praktek.

Adalah hal yang sangat menarik untuk menceritakan siapa sesungguhnya Pinisepuh. Kisah Beliau akan saya ceritakan sebatas yang boleh diceritakan.

Kisah pertemuan dengan Brahma Raja Hyang Suryo



Pada suatu hari Ida Bhatari Ratu Niang Sakti memberi petunjuk kepada Pinisepuh untuk tangkil ke Pura Majapahit di Imam Bonjol, Denpasar. Setelah tangkil ke Pura Majapahit, di sana Pinisepuh mendapat petunjuk untuk tangkil ke Pura Luhur Sandat yang masih di kawasan Imam Bonjol di mana di Pura tersebut ada petapakan Tapel Barong milik dari Prabu Jayasabha atau Ida Hyang Wisesa.


Pinisepuh dan Hyang Suryo

Di Pura tersebutlah Pinisepuh bertemu dengan Brahma Raja Hyang Suryo. Sebelumnya secara gaib, Ida Bhatari Ratu Niang Sakti sudah menceritakan siapa sejatinya Beliau Hyang Suryo. Setelah tiba di pura, Pinisepuh didekati oleh Hyang Suryo, seperti sudah saling mengenal. Mereka ngobrol dan mengisahkan tentang Majapahit sampai jam 12.30 malam. Sampai diujung pertemuan pertama Hyang Suryo berpesan kepada Pinisepuh bahwa nanti pada Purnama Kapat 2004 akan muncul Pratima-pratima satu persatu yang datang dari Beliau para Leluhur dan harus diempon oleh Pinisepuh Agung Yudistira di Jeroan.

Sejarah singkat Leluhur Pinisepuh

Mpu Bradah -> mempunyai anak Mpu Bahula -> menurunkan Mpu Tantular (pencipta Pancasila) -> menurunkan Mpu Soma Kepakisan -> menurunkan Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan -> menurunkan Satria-satria Dalem dan salah satunya adalah Tegeh Kori.

Karena melakukan kesalahan Tegeh Kori dibuang dari Puri yang kemudian dipungut oleh Arya Kenceng (Raja Tabanan) dan menjadi anak angkat Sang Prabu. Saking sayangnya dengan ayah angkatnya Arya Kenceng, Tegeh Kori sering memakai nama Arya Kenceng Tegeh Kori.

Sebelum Tegeh Kori dibuang, Ayahandanya berpesan, kelak keturunan dari Tegeh Kori boleh memakai gelar Dalem yaitu Dalem Benculuk. Melihat ini berarti Pinisepuh mempunyai darah Brahmana dari Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan dan darah satria dari Arya Kenceng. Dalam arti didikan ayahanda angkatnya yang seorang Arya.

Kewikanan dari Kedua Leluhur sepertinya mengalir ke dalam diri Pinisepuh. Tidak bisa saya ceritakan pengalaman-pengalaman Beliau di sini karena tidak sembarang orang boleh tahu karena juga terbentur ‘perjanjian suci’. Akan tetapi akan saya ceritakan nanti pengalaman-pengalaman magis Pinisepuh.
 
Kemunculan Pratima

Pratima adalah manifestasi Beliau Ida Bhatara. Bentuk Pratima adalah patung kecil, yang sebenarnya adalah sebuah potret 3 dimensi Beliau. Atau wujud Beliau berupa patung yang terbuat dari macam-macam bahan. Bisa batu dan terkadang juga keramik.

Satu Pratima terkadang juga dihuni oleh beberapa Roh Leluhur. Pengertian ini baru saya dapatkan waktu napak tilas ke Puri Majapahit di Trowulan. Di saat kembali dari Trowulan saya merasakan bahwa Pratima yang kami bawa ‘lunga’ waktu kembali tidak dihuni oleh Satu Roh Beliau. Dengan demikian Pratima bisa diartikan juga sebagai sebuah kendaraan yang bisa dimuati beberapa orang. Pinisepuh mengatakan bahwa bisa memang seperti itu.

Pada suatu hari saya mengajukan pertanyaan bodoh. “Gung, kok pelinggih itu kecil apa Ida Bhatara rumahnya di sana?” Pinisepuh ketawa. “Bli, ibaratnya pelinggih itu tempat duduk Pejabat. Kalau Bli menghadap pejabat ia duduk di sana. Juga kalau Bli maturan ibaratnya Beliau datang dari kahyangan dan duduk di pelinggih tersebut.” Menurut Pinisepuh, Pratima juga hampir seperti itu cuma Pratima berbentuk patung perwujudan dari Beliau Ida Bhatara, dan terkadang, Beliau yang lain bisa ikut, atau numpang di Pratima tertentu kalau belum memiliki Pratima sendiri untuk bisa ‘lunga’ pada saat di-pendak ke suatu Pura.

Akhirnya, saat-saat yang dinanti penuh antusias dan penasaran, sesuai dengan petunjuk langsung yang diberikan oleh Brahma Raja Hyang Suryo, bahwa pada Purnama kapat tahun 2004 Pratima-pratima, katanya akan segera mulai berdatangan. Pertanyaan Pinisepuh waktu itu, karena belum pernah tahu, bagaimana cara Pratima tersebut datang ke Jeroan?

Pratima Ida Bhatari Ratu Mas Magelung

Ini adalah Pratima yang pertama datang. Pratima Ida Bhatari Ratu Mas Magelung diantarkan sendiri olah Brahma Raja Hyang Suryo secara niskala atau gaib bersama seorang biksu yang juga gaib.

Adalah pengalaman yang sangat mengesankan karena Hyang Suryo adalah manusia yang masih hidup di dunia tetapi mengapa bisa datang dalam bentuk gaib. Tetapi bagi Agung Yudistira, ini semacam pertanda bahwa Sesuhunan-nya, Hyang Suryo ingin menunjukkan bahwa Beliau adalah bukanlah manusia kebanyakan. Beliau adalah seorang titisan Dewata juga seperti Raja-raja Majapahit lainnya. Pernah ditanyakan kepada Beliau namun jawabnya sangat sederhana, hanya sebuah senyuman arif menyejukkan.

Ida Bhatari Ratu Mas Magelung, di Besakih sering disebut Ida Bhatari Ratu Ayu Mas Magelung. Perwujudan Beliau sangatlah banyak. Kalau di Batur Beliau adalah Dewi Ulun Dhanu atau juga sering disebut Dewi Dhanu. Dalam Budha Beliau adalah Ibu Dewi Kwan Im yang welas asih dan maha penyayang, Beliau mempunyai 33 perwujudan yang akan diceritakan dalam kesempatan lain.

Pratima Ibu Dewi Yulan

Suatu hari Pinisepuh bertemu dengan pak Iwan di pura Majapahit Iman Bonjol dan seorang Pemangku yang nyunsung Ibu Dewi Kwan Im. Atas petunjuk Ida Bhatari Ratu Mas Magelung, Pinisepuh diperintahkan untuk mengambil Pratima Ibu Dewi Yulan dari rumah pak Iwan. Begitu diutarakan kepada pak Iwan, diijinkan begitu saja walau itu sudah disungsung turun temurun oleh keluarganya. Pak Iwan dari dinasti Li keturunan dari Dara Jingga, Eyangnya dulu merantau ke Buleleng Bali, dan juga Eyangnya masih ada hubungan dengan Hyang Suryo.

Pratima Ida Bhatara Mpu Kuturan

Pinisepuh mendapat petunjuk untuk mendak Ibu Dewi Yulan ke Pura Silayukti. Pratima dilinggihkan di sebuah ‘plangkiran’ dan sesampai di Pura Silayukti Pratima dilinggihkan. Tetapi pada saat mau pulang, di plangkiran ada 2 Pratima yaitu Pratima Ibu Dewi Yulan dan Pratima Ida Bhatara Mpu Kuturan yang baru muncul di Pura Perhyangan Beliau Ida Mpu Kuturan sendiri dan sejak saat itu Pinisepuh berkomunikasi dengan Beliau.

Tapel Sidakarya

Pada suatu hari, seseorang bernama Wayan Suta yang sedang sakit niskala datang minta tolong kepada Pinisepuh dan akhirnya memang sembuh. Dalam prosesi pengobatan itu Wayan Suta bertanya kepada Pinisepuh: “Agung, senang dengan tapel?” Pinisepuh menjawab “Ya tentu saja suka”. “Ya suatu saat nanti saya akan matur”, kata Wayan Suta.

Beberapa bulan kemudian, Wayan Suta ada upacara potong gigi dan mengundang Pinisepuh yang akhirnya datang juga ke tempat upacara. Pada saat upacara tersebut Pinisepuh bertanya perihal tapel yang dulu sempat dikatakan oleh Wayan Suta, dan serta merta Pinisepuh diajak masuk ke kamar suci Wayan Suta.

Ada beberapa tapel di sana dan Pinisepuh memilih satu topeng yang bagus. Akan tetapi tidak diijinkan karena tapel tersebut  masih sering dipakai untuk menari. Kemudian tangan Pinisepuh menggapai tapel yang sudah agak tua. Tetapi Pak Wayan Suta sangat kaget, sebab yang dipilih adalah Tapel Sidakarya yang tidak boleh dimiliki oleh sembarangan orang.

Kemudian Wayan Suta menceritakan perihal bagaimana asal muasal tapel tersebut.

Tapel tersebut dulunya disungsung oleh Ratu Peranda di Grya Babakan. Tetapi tapel ini hilang dari Grya sudah beberapa tahun. Suatu hari Wayan Suta tangkil ke Grya dan melihat tapel di bawah pelangkiran dan kemudian ditunjukkan kepada Ratu Peranda yang kemudian kaget bahwa tapel tersebut adalah tapel yang hilang dulu. Karena sudah petunjuk bahwa tapel tersebut harus diberikan kepada yang menemukan, maka tapel memang diberikan ke Wayan Suta.

Wayan Suta membersihkan tapel tersebut tetapi pada saat membersihkan jari-jarinya terkena sesuatu dan luka. Setetes darah jatuh ke muka tapel. Ratu Peranda kemudian memberitahu Wayan Suta bahwa Ida memang sudah berkemauan atau mapikayun seperti itu. Wayan Suta kemudian diperintahkan untuk meneteskan darah tersebut sebanyak 11 kali sesuai petunjuk Ida. Tapel kemudian dicuci dengan air kembang serta beberapa hari kemudian dipasupati kembali oleh Ratu Peranda.

Sebelum membawa pulang Wayan Suta diberitahu kesakralan Tapel Sidakarya. Salah satunya adalah hanya pergina atau penari yang boleh memiliki tapel tersebut. Setiba di rumah, adik pak Wayan Suta sedang sakit dan menggigil. Iseng-iseng Wayan Suta ‘nunas asuan’ dari tapel Sidakarya dan ternyata sembuh. Tetapi adiknya beberapa hari kemudian sakit aneh dan setelah ditunaskan raos ternyata karena keberadaan tapel tersebut di rumah. Selain itu, Wayan Suta mendapat petunjuk raos bahwa harus ada upacara dan membuat kamar suci untuk menempatkan tapel tersebut.

Setelah beberapa tahun kemudian ternyata pak Wayan Suta menjadi seoarng pergina atau penari Topeng Sidakarya!.

Setelah mendengar cerita dari Wayan Suta, Pinisepuh tidak mengurungkan niatnya untuk meminta tapel Sidakarya tersebut. Akhirnya tapel Sidakrya dibawa ke Jeroan Pinisepuh. Sebelumnya sudah diwanti-wanti agar hati-hati merawat tapel karena sangat disakralkan. Tetapi karena Agung tidak mengenal siapa itu Dalem Sidakarya, tapel tersebut diperlakukan sebagai topeng pajangan dan ditaruh seperti meletakkan tapel sovenir dari Sukawati. Namun pada suatu hari Pinisepuh didatangi sosok yang mengaku Dalem Sidakarya dengan berkata:”...Nira Ratu Dalem...”. Tapi Pinisepuh tidak memperhatikan itu.

Pada suatu hari datanglah seorang saudara dari Singaraja dan minta tolong untuk diobati. Tetapi kemudian ia kerauhan dan memberitahu Pinisepuh bahwa tapel tersebut adalah Tapel Sidakarya dan nanti kalau odalan di Pura Tenget Pedungan, Tapel harus ‘lunga’ kesana. Pada saat itu Pinisepuh bilang, bahwa kalau memang benar ini adalah Ida Bhatara, tolong kalau odalan nanti biar banyak yang datang menolong karena dimana nyari biaya kalau harus dikerjakan sendiri.

Kenyataannya waktu odalan banyak sekali orang yang datang dan mau menolong membuat bermacam-macam banten, dan Beliau lunga ke Pura Tenget. Akhirnya tapel sudah melinggih di tempatnya, serta Jero Pemangku sudah mulai memantra. Suara bajra berdentingan. Tiba-tiba angin menjadi keras. Awan mendung. Dari atas langit secara niskala Pinisepuh melihat putaran angin pekat seperti tornado datang. Ujung angin yang berpusar tersebut menyentuh Tapel Sidakarya. Saat bersamaan ujung angin puting beliung itu menyentuh Tapel, Jero mangku membanting bajra yang tengah dipegang ‘ngeleneng’ dan Jero Mangku kerauhan. Lampu mati tiba-tiba. Langit mendung besuara gemuruh. Bunga api petir di angkasa tampak mencekam ditambah dengan suara prepet prepetnya. Suara anjing meraung-raung ngulun. Jero mangku dalam kerauhannya berkata: “Kenapa baru sekarang ke sini...”, setelah Jero Mangku berbicara begitu pemedek hampir semua kerauhan.

Dalam kerauhan tersebut, Jero Mangku bilang bahwa tapel harus lunga juga ke Pura Dalem Sidakarya. Setelah selesai odalan di Pura Tenget, tapel kembali ke Jeroan. Beberapa hari kemudian Jero Mangku dan beberapa pengempon pura datang ke Jeroan. Pinisepuh akhirnya mengatakan bahwa sebaiknya Tapel Sidakarya ditempatkan di Pura saja. Semua setuju dan lalu Pinisepuh menyerahkan secara simbolis tapel kepada Jero Mangku. Tetapi kemudian Jero Mangku kerauahan dan berkata: “Nira sing nyak ditu melinggih. Nira nak kayun dini melinggih. Kadong sing baange ape. Kadong aturine canang dogen.” (Saya tidak mau tinggal di sana. Saya ingin tinggal di sini. Biarpun tidak mendapat persembahan, biarpun cuma mendapat persembahan canang). Akhirnya Tapel sampai sekarang berada dan melinggih di Jeroan Pinisepuh.

Kemudian suatu hari dalam piodalan tapel berkesempatan tangkil ke Dalem Sidakarya. Setelah ditanya oleh Jero Mangku Dalem dari mana asal Pinisepuh yang dijawab dari Jero Agung Pengastulan, maka terjadilah cerita yang panjang. Diantaranya bahwa Pura Dalem Sidakarya dulu waktu dalam pembangunan Leluhur Tegeh Kori yang ikut membangun. Itulah barangkali alasan mengapa tapel Sidakarya ingin tetap dilinggihkan di Jeroan. Karena Leluhur dahulu saling berhubungan.

Pratima Ibu Dewi Kwan Im dan Dewa Bumi

Pratima Ibu Dewi Kwan Im muncul dengan sendirinya di Jeroan akan tetapi jauh hari sebelum kemunculan Pratima Beliau, Pinisepuh sudah diberi petunjuk. Karena diberi petunjuk, Pinisepuh menyiapkan tempat untuk menyambut kedatangan Beliau.

Akhirnya Ibu Dewi Kwan Im datang dan muncul di tempat yang telah disediakan. Kedatangannya disertai dengan Pedang Naga yang kemudian diketahui adalah milik dari Dewa Bumi. Dan beberapa bulan kemudian Beliau Dewa Bumi juga muncul di Jeroan juga di tempat yang sudah disediakan.

Ratu Syahbandar

Ibu Dewi Kwan Im memberi petunjuk kepada Pinisepuh bahwa kalau ada odalan di Pura Dalem Pengembak Sanur agar dipendak Kim Sin Ibu Dewi Kwan Im atau Pratima Beliau ke Pura.

Pada bagian ini saya sudah menjadi angota Paguyuban. Saya ikut dalam prosesi mendak  Ibu Dewi Kwan Im ke Pura Dalem Pengembak dan mendak Beliau Ibu Dewi  ke Pelinggih Ratu Tuan di Pura Dalem Pengembak.

Besoknya setelah odalan di Pura Dalem Pengembak, Ratu Syahbandar muncul sendiri di Jeroan. Demikianlah untuk pertama kali saya menyaksikan sendiri kemunculan Pratima yang seolah-olah datang tiba-tiba.

Pratima Prabu Airlangga dan Cerita Pura Majapahit di Areal Wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Pinisepuh sebagai kaki tangan Awatara yang dianugrahi penglihatan dan kemampuan berkomunikasi dengan Beliau Ida Bhatara, juga menerima beban tugas yang salah satu tugas Pinisepuh  adalah mewujudkan cita-cita Ciwa Budha dan Budaya agar lestari. Akhirnya Pinisepuh mewujudkan pura Majapahit di GWK, yaitu ceritanya sebagai berikut:

Pada suatu waktu, Hyang Suryo mendak Pratima Prabu Airlangga ke salah satu Ruko di GWK. Saat itu Hyang Suryo mendapat ijin untuk menempati salah satu Ruko di GWK. Pinisepuh saat tersebut juga berada di ruko GWK dan mendapat petunjuk untuk melakukan meditasi di belakang ruko di tempat pura Majapahit sekarang.

Pinisepuh bermeditasi bersama 3 orang lainnya di padang ilalang belakang ruko atas petunjuk Ibu Dewi Kwan Im. Pada saat meditasi tersebut Hyang Suryo dan orang lainnya yang berada di ruko menyaksikan ada api yang menyala sebesar drum minyak tanah. Pada saat yang sama Pinisepuh mendapat perintah untuk membuka mata dari Ibu Dewi Kwan Im dan begitu membuka mata, di hadapannya, yaitu di tempat api menyala menurut kesaksian dari teman-teman di ruko ada Pratima Prabu Airlangga yang lebih kecil dari yang dipendak Hyang Suryo muncul. Pratima ini kemudian dibawa dan dilinggihkan di Jeroan sampai dengan sekarang.

Di tempat kemunculan Pratima Prabu Airlangga tersebutlah sekarang didirikan candi pemujaan ke Majapahit. Juga menjadi Pura Ciwa Budha yang dipimpin Bikuni dan seorang Pemangku.

Pratima Ganesha

Pratima Ganesha muncul secara gaib di Jeroan Pinisepuh. Pada saat bersamaan dengan kemunculan Pratima Ganesha, Hyang Suryo mendapat petunjuk untuk nedunkan Pratima dan Pusaka Majapahit Trowulan ke Bali karena pada saat tersebut Puri Ibu Majapahit Bali di Puri Gading Jimbaran sudah hampir selesai dikerjakan.

Perlu diketahui, bahwa Pusat Majapahit Trowulan ditutup oleh SKB Mentri dan umat Hindu atau Ciwa Budha tidak diperkenankan melakukan kegiatan ritual dalam bentuk apapun di sana. Ini membuat umat Ciwa Budha terpukul karena tidak boleh bersembahyang memuja Leluhur di sana. Akhirnya Hyang Suryo memindahkan semua Pratima dan Pusaka penting ke Bali dengan membangun Puri Ibu Majapahit di Jimbaran.

 

Pengurus

Sample image Jro Mangku Panji
Pemangku
Sample image I Gusti Ngurah Suarnita
Ketua
Sample image I Gusti Ngurah Budi
Wakil Ketua
Sample image Kadek Ardi
Sekretaris 1
Sample image I Gede Sukadana
Sekretaris 2
Sample image I Wayan Sudiawan
Bendahara 1
Sample image I Gede Somada
Bendahara 2
Sample image Ni Komang Sumadi
Ketua Dharma Ayu

Hubungi kami

PURI AGUNG DHARMA GIRI UTAMA

Jl. Tegal Harum No 7 Biaung
Denpasar Timur- Bali 80237
Tel: 081558707862
Email:info@dharmagiriutama.org
Web: www.dharmagiriutama.org
 
PURA PUROHITA
Lembah Dusun Benyahe,
Desa Unggahan, Seririt,
Buleleng, Bali.
Jro Mangku Wana
0878-6012-7699
Posisi anda  : Home Pinisepuh Perpanjangan Tangan Awatara