Makna Piodalan Pura, Tumpek Landep dan Purnama Cetak
Ditulis oleh Ida Pandita Mpu Paramadaksa Purohita   
Hari suci Tumpek Landep yang diperingati setiap enam bulan pawukon memiliki makna penyucian sarwa sanjata yang menunjang kehidupan manusia. Dalam perkembangannya sarva sanjata tidak hanya diartikan seperti: tombak, keris, panah, kampak dan lain-lainnya. Akan tetapi semua peralatan yang menunjang kehidupan manusia termasuk sarana dan prasarana jasa dan transportasi.

Secara lebih mendalam Tumpek Landep memiliki makna sebagai penyucian dan peningkatan rohani spiritual diantaranya pikiran dan hati yang suci. Melalui penyucian ini diharapkan manusia memiliki ketajaman pikiran setajam senjata dan kesucian hati sejernih air salju, sehingga apa yang dikatakan dan diperbuat berdampak pada kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap semua ciptaan Sang Hyang Widhi. Dengan demikian ketajaman dalam berpikir yang disertai etika dalam berkata dari berbuat harus sesuai dengan ajaran agama Hindu yaitu Dharma. Tumpek Landep mengajarkan kepada umat manusia agar senantiasa merawat dan memelihara segala perlengkapan dan sarana yang menunjang kehidupan manusia, agar mampu menghadapi perkembangan modernisasi yang serba cepat, tepat dan akurat.

Pada era globalisasi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi, manusia dalam arti dan fungsi yang kecil dituntut mengambil peran berkarya dalam segala aspek kehidupan baik sebagai pencipta, pemelihara maupun pelebur. Apa yang diciptakan manusia, dipelihara dan dilebur oleh kekuatan serta kemampuan manusia tetapi sifatnya hanya terbatas. Karena itu manusia senantiasa mawas diri dan interospeksi diri terhadap berbagai kelemahan dan keterbatasannya.

Dengan demikian sebagai manusia tidak menjadi sombong dan angkuh bilamana memiliki kemampuan dan kekuatan yang lebih diantara ciptaan Hyang Widhi. Justru sbagai manusia lebih menyadari akan hakikat dan jati dirinya guna meningkatkan rohani spiritual menuju kepada Brahman sang Pencipta. Empu Kuturan  menyatakan :
Ikang citta hetu nikang atma pamukti swarga, citta hetu ning atma tibeng naraka, citta hetu nimittanyan pangdadi tiryak, citta hetunyan pengjanma manusia, citta hetunya pananggihaken kamoksan mwang kalepasan, nimitanya nihan
Arti :
Pikiranlah yang menyebabkan sang pribadi menikmati sorga, pikiranlah yang menyebabkan sang pribadi jatuh kedalam neraka, pikiranlah yang menyebabkan menjadi binatang, pikiranlah yang menyebabkan menjelma menjadi manusia. Pikiranlah yang menyebabkan orang mendapatkan kamoksan dan kelepasan, sebabnya demikian
Apabila sattwika yang dominan menyebabkan mencapai moksa
Apabila rajah yang dominan menyebabkan neraka,
Apabila tamah yang dominan menyebabkan menjelma menjadi binatang
Apabila sattwam dan rajah yang dominan menyebabkan sorga
Apabila sattwam, rajah dan tamah yang dominan menyebabkan menjelma menjadi manusia
Secara lahiriah senjata memiliki ketajaman pada mata pisau dan ujungnya dan secara rohani ketajaman senjata dalam diri manusia terletak pada Tri Kaya Parisudha. Karena itu bagian manusia yang paling tajam adalah pikiran dan mata hati. Kemudian ketika diaplikasikan melalui mulut maka yang paling tajam adalah lidah dan ketika digunakan melalui perbuatan maka yang paling tajam adalah tangan dan kaki. Ketajaman itu perlu dikendalikan agar pikiran, mata hati, lidah, tangan dan kaki dapat berfungsi dengan baik untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Tidak ada saling menyakiti dan tidak ada tindakan kekerasan fisik dan psikis. Semuanya dapat diharmoniskan keberadaannya masing-masing sehingga tumbuh sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Tumpek Landep juga mengajarkan untuk merawat dan memelihara segala sarana dan prasarana yang ada didalam tempat suci (pura, kuil dan candi) seperti senjata Dewata Nawa Sanga. Karena itu makna piodalan Pura dikaitkan dengan Tumpek Landep sebagai peringatan berdirinya Pura dan hari penyucian segala sarana dan prasarana perlengkapan upacara agama hindu termasuk senajata Dewata Nawa Sanga.

Disamping itu hari suci Tumpek Landep jatuhnya bersamaan dengan hari suci Purnama, maka dikenal dengan istilah piodalan Nadi. Jadi ada tiga peristiwa peringatan hari suci keagamaan Hindu. Ibarat pepatah : sekali dayung tiga pulau terlampaui, upakaranyapun dalam tingkatan tertentu sesuai aturan sastra suci. Upakaranya berbeda dibandingkan dengan piodalan biasa. Melaksanakan persembahyangan dan menghaturkan upakara yajna pada ketiga hari suci tersebut masing-masing memiliki makna sebagai berikut :
  1. Pada hari Piodalan Pura bermakna peringatan berdirinya pura dan meningkatkan kesucian pura.
  2. Pada hari Tumpek Landep bermakna penyucian sarwa senjata yang menunjang kehidupan manusia
  3. Pada hari Purnama bermakna ber ‘Yoga’ nya Hyang Candra, prabawa Hyang Widhi yang menganugrahkan kedamaian.
Makna hari suci itu sebagai motivasi bagaimana umat manusia bisa menghadirkan vibrasi kesucian ketiga hari suci tersebut kedalam diri dan dapat direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Vibrasi kesucian yang didapatkan sangat berguna bagi terciptanya ketentraman, ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan yang mendalam bagi umat manusia. Inilah makna yang paling mendalam dari piodalan pura. Tumpek Landep dan hari Purnama sebagai momentum untuk saling asah, asih, dan asuh antar semua ciptaan Hyang Widhi.

Intisari dari piodalan Tumpek Landep adalah:

KETAJAMAN ITU PERLU DIKENDALIKAN AGAR PIKIRAN, MATA HATI, LIDAH, TANGAN DAN KAKI DAPAT BERFUNGSI DENGAN BAIK UNTUK KESEJAHTERAAN DAN KEBAHAGIAAN UMAT MANUSIA

TIDAK ADA SALING MENYAKITI DAN TIDAK ADA TINDAKAN KEKERASAN PISIK DAN PSIKIS

SEMUANYA DAPAT DIHARMONISASIKAN KEBERADAAN MASING-MASING SEHINGGA TUMBUH SIKAP SALING MENGHORMATI DAN MENGHARGAI SATU SAMA LAIN


OM RAHAYU SAGUNG DUMADI

Sumber: Pinisepuh