Situs resmi Puri Agung Dharma Giri Utama

Mustika Dewa - Manusia Setengah Dewa Cetak Email
Ditulis oleh Ida Pandita Mpu Paramadaksa Purohita   

Adalah alam Bhur yang bergetar-getar memuntahkan api. Porosnya berputar seperti mendulang emas. Yang mulia mendekati poros kemuliaan dan keabadian. Sementara yang isinya kosong karena kentut sembarangan menjauhi poros. Hancur hidupnya di jaman Kali!
Alam Bhuah tertawa gembira mengais sampah. Seperti kukatakan, banyak yang kentut sembarangan karena makanannya sampah. Morat-marit ibarat di jaman purba. Yang menang yang berkuasa.
Bapak Akasa menangis dengan hujan. Kilat dan Guntur menegur para budak berbaju berlian. Sementara yang berhati emas mengagumi keindahan namun khawatir bumi ini segera runtuh!

Aku akan ceritakan Keajaiban Tantra yang paling tinggi dalam sejarah manusia. Adalah Titisan Dewa turun ke bumi yang sedang carut marut, dikirim alam semesta untuk menengahi pergolakan pikiran-pikiran yang kejam. Apakah dajjal sudah merasuki pikirannya yang bobrok?

Kukatakan di sini, pada jaman Kali, Titisan Dewa telah turun, menuju manusia yang masih memiliki budi  yang terbaik yang masih bersisa, Beliau kemudian menyiraminya dengan air mata bersimbah darah, menandakan kesedihan yang mendalam melihat kekuatan dajjal melebihi kekuatan para Dewa. Tak berselang lama, manusia ini dididik dengan kejam namun di penghujung hari, sari dari madu suguhan para Dewa adalah anugrahnya.

Dewa Titisan selanjutnya menceritakan pengetahuan mengenai Mustika Dewa, yang tiada lain adalah darah Dewa yang keluar dari mulut Dewa. Bentuknya bulat seperti kelereng, keras bagai kristal dan sangat panas melebihi panas yang dipahami oleh manusia. Warnanya merah bening namun bersinar terang benderang dengan warna darah. Bias sinarnya sangat lembut namun pancarannya tajam.


Manusia yang teguh bhakti kepada para Dewa dan giat dalam lakon Dharma, kekuatan Tantra dalam dirinya tumbuh, telah memahami empat arah yang tak lain adalah kanda pat, maka Ia akan mendapati dirinya berada dalam genggaman Guru Mahakoala, guru utama, kemudian pengorbanannya menjadi penugrahan, Ia berhasil dalam tapa bratha dan mendapat anugrah Mustika Dewa. Kemudian manusia ini menjadi manusia utama diantara manusia lainnya manakala Ia menelan Darah Dewa tersebut.

Manusia tersebut kemudian menjadi manusia setengah Dewa. Selama beberapa lama dengan berbagai pengetahuan, dan berkehidupan dengan lakon Tiga Dasar Dharma, yoga dan meditasi, mencairlah Mustika Dewa di dalam tubuhnya. Menyatu dengan darah manusianya, setelah penyatuan darah tersebut maka pikiran dan unsur lima elemen spiritual menyatu. Pada saat ini sudah terjadi, Ia mendapati Ilmu Kaweruh Dalam Siwa Budha sudah ada dalam pengertiannya. Empat puluh pengetahuan dalam mencapai mukthi berada dalam rekaman bawah sadar. Adalah cupu manik sebagai organ spiritual yang juga disebut pineal yang mengatur pikirannya sejak saat itu. Sesungguhnya, pada saat inilah Ia benar-benar sudah menjadi Manusia Setengah Dewa. Pikirannya bertautan semesta, bak sidhi inucap. Unsur kimia dalam tubuh yang disebut kadar tubuh, bersesuaian dengan empatpuluh bait mantram dalam Ilmu Kaweruh Siwa Budha yang tak lain adalah Ilmu Sangkan Paraning Dumadi. Kukatakan, inilah sesungguhnya yang disebut Tantra Subhuti, mengerti dan tahu tanpa belajar.

Pada fase ini, Ular Kundalini Shakti sudah sempurna terbentuk namun baru memiliki jumlah kepala adalah tiga, pencapaian sempurna adalah dengan kepala tujuh.

Manusia setengah Dewa memiliki semua pengertian sastra dalam tatanan manusia, sastra pinulah sudah menjadi satu dengan pikiran, raja pinulah adalah panutan. Setiap keinginannya terpenuhi dan manusia tersebut arif akan sidhi dan shakti dari kekuatan Dewa yang ada pada dirinya. Ia kemudian menangisi kenistaan yang dihadapi manusia, menderita melihat penderitaan manusia.

Di jaman Mahabrata Ashwatthama adalah manusia yang beruntung mendapat Mustika Dewa. Tetapi Ashwatthama sangatlah bodoh dengan anugrahnya, setelah peperangan selesai dendamnya masih memuncak dan ingin menghancurkan Pandawa. Arjuna dan Ashwatthama sama-sama memiliki Brahma Astra atau senjata Brahma yang berkekuatan nuklir. Namun Bhagwan Byasa memerintahkan untuk menarik kembali senjata sebab akan menghancurkan alam sekitar. Arjuna berhasil menarik kembali senjatanya, sedang  Ashwatthama  tidak.  Seharusnya Ia menyerap kekuatan dari Brahma Astra karena sudah hidup abadi karena Mustika Dewa tetapi justru mengarahkan ke rahim para wanita Pandawa dan Uttara terkena. Kemudian Krishna menghukum Ashwatthama dengan mengambil permata Mani dari mata ketiga dan kena pastu agar borok di mata ketiga sampai akhir jaman Kali.

***

Duhai para kerabat, Pinisepuh menitahkanku agar lebih dalam lagi menggali kepada para Dewa Bodhisatwa. Hyang Maha Guru Mpu Kuturan dan Hyang Mpu Bharadah memberiku kesempatan untuk belajar. Pinisepuh meningkatkan  ketajaman bathinku. Baiklah aku akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang sekiranya berguna bagi para pelaku jalan Dharma.

Sebelumnya Pinisepuh menitahkanku mencari sebelas lembar daun dari pohon khusus di Pura Tirtha Pingit Besakih, Gunung Agung. Begitu banyak pohon ada di sana, yang mana adalah khusus tidak bisa ditentukan. Disertai tiga murid, bermeditasi di natar pura dan tak lama berselang, munculah Widiadara memberi petunjuk daun yang mana harus kupetik. Aku memetik tigabelas bukan sebelas, kubawa daun tersebut ke Pura Pengubengan di mana Pinisepuh menunggu. Ternyata daun tersebutlah yang dimaksudkan.

Kala berikut, Pinisepuh mengajakku ke Purohita Pura, pura yang didirikan atas amanah Hyang Mpu Kuturan dan Pinisepuh.

Daun-daun tersebut kemudian ditempelkan di seluruh titik chakra dan titik penting lainnya di tubuh. Daun ini menyedot sisa kekotoran non fisik pada titik-titik chakra. Selesai dengan proses ini, pada hari-hari selanjutnya aku melakukan berbagai bratha dan meditasi yang mana telah kuajarkan di Puri Agung Dharma Giri Utama. Setelahnya mata ketiga phisik telah mengalami kebangkitan dan ketajaman mata bathin meningkat. Kujelaskan di sini, mata ketiga phisik adalah perkembangan kemampuan dari mata lahir. Melihat hal gaib layaknya melihat benda-benda materi lainnya. Mata bathin jangkauannya lebih luas, bisa melihat masa lalu, masa kini dan masa depan.  Kemampuan dan ketajaman tergantung dari perkembangan Kundalini dari sang diri. Semakin sempurna Kundalini semakin jauh dan jelas pandangan bathinnya. Mata ketiga phisik tidak berkemampuan seperti mata bathin.

Kejadian tersebut adalah akhir dari proses Kundalini fase III dan andai mendapat anugrah Mustika Dewa,  manusia ini kemudian menyelami intisari dari Weda dengan melakoni kehidupan Kundalini Fase IV yaitu Guru Kosmis, yaitu melakoni kehidupan dengan menganggap semua hal menyenangkan dan membahagiakan. Pada fase ini Manusia Setengah Dewa mendapat anugrah Tujuh Hukum Tuhan yang sebenarnya cara berkehidupan bagi manusia.

Beberapa saat kemudian Ia memulai kehidupan Kundalini Fase V yaitu Wanaprasta. Hanyalah suatu istilah bahwa ia harus menjalankan kehidupan selayaknya pertapa. Lebih banyak melakukan meditasi untuk menselaraskan Sinar dari Api Brahma Chakra yang bergerak naik menuju alam semesta dan menyadari sinar Antahkarana yang turun dari alam semesta masuk tubuh melalui nadi wisesa menembus chakra Muladhara dan terus ke Inti Bumi.

Untuk menselaraskan dua sinar tersebut adalah dengan meditasi Karuna Budhi. Pikiran menuju ke semua titik tubuh di mana Dasa Bayu terletak dan pada saat yang sama memadukan unsur Bhur, Buwah dan Swah di chakra Anahata. Manakala sinar dari chakra Muladhara dan sinar Antahkarana memiliki besar sinar setara atau face to face dan bertemu di uluhati, dan benar-benar sempurna, pada saat inilah cupu manik atau pineal memancarkan sinar ke titik Trinetra yang rahasia. Menyajikan sinar dengan pola-pola geometri yang sangat persisi dan unsur kimia tubuh untuk sementara dikuasai endokrin, agar semua proses yang menyakitkan tidak dialami pada saat penyatuan dua kekuatan akasa dan pertiwi. Disinilah manusia tersebut akan memakai kekuatan dari Utpetti, Stithi dan Pralina. Mengolah Dasa Aksara, Sa Ba A Ta I Na Ma Si Wa Ya, sebagi jembatan menembus ruang hampa, akasa. Utpetti adalah memohon kehadiran para Dewa, Stithi adalah melayani kehadiran para Dewa dan menempatkan sifat dari tiga kekuatan Trimurti dengan Aksara Ang Ung Mang, di semua titik rahasia yang sesuai dengan aksara suci. Pralina adalah melakukan peleburan badan wadag menjadi abu, ngeseng wadag dan meraga sukma. Memisahkan lima elemen spiritual; tanah, air, api, udara, ether dan lima elemen bumi; air, api, kayu, tanah dan logam,  serta Tri Guna dengan sang Atman. Ngaben adalah upaya manusia Bali untuk memoksakan manusia untuk mencapai nirguna Brahman. Wadag dan atman terikat oleh Tri Guna hanya terpisah oleh kehancuran elemen spiritual dan elemen bumi. Sesungguhnya ini 'pegat soot', agar roh bisa menuju 'kawitan'. Ka adalah tujuan dan Witan adalah Tempat.

Diantara proses tersebut, suara batin dengan kekuatan Tantra yang menakjubkan akan menggabungkan kekuatan dari Kanda Pat yang menjiwai Dasa Bayu; ditambahkan Ong, I A Ka Sa Ma Ra Wa La Ya Ung, mengundang kekuatan para Dewa agar menempati setiap titik dalam tubuh dengan memadukan Dasa Bayu dan Dasa Aksara. Manakala terjadi penyatuan dasa aksara dan dasa bayu maka kekuatanTantra menjadi kanda pat sari. Dewi Kundalini dan aspek ciptaan terikat oleh Dodot, adalah Sabuk Prana pada manusia. Semua atribut materi ikut menuju perpindahan materi. Mokshatam  Jagadhita Ya Ca Iti Dharma, pengetahuan dharma telah mengantarnya ke bhuwana langgeng, bahagia dan sempurna.

Namun sebelum proses penyatuan Karuna Budhi bisa dilakukan, manusia setengah Dewa akan terjun ke masyarakat dan belajar suatu keadaan. Ia mendatangi orang kaya atau miskin. Ia meminta-minta untuk mengetahui masih adakah kebaikan di masayarat. Hubungan sosial yang baik membawa kebaikan, kembali dengan konsep tiga dasar dharma bahwa dalam diri manusia adalah Atman yang tak lain adalah Brahman.

Saya kisahkan kejadian di masa lalu. Perjalanan yadnya masyarakat Bali mendapat berbagai penyempurnaan oleh manusia yang siap menemukan jalan pulang. Adalah Brahmana berpenampilan gembel datang ke Besakih yang sedang menggelar yadnya. Beliau ingin menemui sanak  yang adalah  Raja pada masa itu. Sang Brahmana ditolak dan diusir. Tidak ada sifat hubungan sosial yang ditunjukkan semua orang manakala itu. Gumi Bali grubug kena pastu sang Brahmana yang akhirnya diketahui adalah Dalem Sidakarya. Ini mengajarkan kepada umat manusia, hendaknya menjunjung hubungan sosial yang baik setiap saat, apalagi saat melakukan yadnya, agar yadnya kepada Leluhur mendapatkan restu, demikian yang diajarkan Bhatara Raja kepada semua murid.

Setelah beberapa lama dalam pengembaraan, manusia setengah Dewa kembali ke Wanaprasta, yaitu menjalani fase V kebangkitan Kundalini. Wanaprasta dalam arti luas adalah dharma bhakti kepada alam semesta. Bukan menyendiri di dalam hutan dan meninggalkan manusia lain yang masih perlu bimbingan. Manusia-manusia dengan kemampuan tinggi selayaknya tidak meninggalkan masyarakat dan menyepi di dalam hutan.

Wanaprasta adalah nyepi batin, meditasi, yoga, bratha, melakukan berbagai puja kepada para Dewa. Bukan menghindari duniawi semata-mata. Tetapi bagaimana Tri Hita Karana bisa dilaksanakan di manapun berada. Wanaprasta adalah menunggu amanah dari para Dewa untuk melakukan bagian akhir pengolahan sifat kimia di dalam tubuh dan menyerap sari Tantra Subhuti.

MOKSHA

 

Kemudian, adalah Kundalini fase VI dan VII, manusia akan Meringkas Raga, ngeseng raga dengan melaksanakan Pralina badan kasar. Empatpuluh bait suci berkaitan dengan kadar tubuh dan mantram Sangkan Paraning Dumadi pada akhir mantram, di-regep pada titik rahasia Tantra.

Seperti pada proses penciptaan, Hanya dengan Udara dan ke dalam udara mereka akan hilang. Manusia ini telah fasih dalam pengertian Kanda pat dan menembus Kanda pat sari. Chakra Anahata menyerap semua prana disekitarnya bahkan di semua arah dari alam ini. Sebab Ia adalah arah tersebut. Akan ada fenomena alam besar pada saat proses ngeregep, atau merapal mantram sangkan paraning dumadi, Ilmu Kaweruh dalam Siwa Budha. Empat puluh sembilan saudara yang ikut lahir menyatu. Kakang mbarep saudara tua adalah kawah, air ketuban saat lahir. Adi ragil saudara muda adalah ari-ari, semua diajak pulang disambut tepuk tangah gemuruh dan guntur dari Leluhurnya. Dipayungi Teja dan menyambung dengan waktunya Dewa, lupa ingat hidup mati.

Teringat akan petuah Bhatara Raja; Ada keadaan dimana tidak ada tanah, tidak ada air, tidak ada api, tidak ada udara, tidak ada dasar yang terdiri dari ketidak terbatasan kesadaran, tidak ada dasar dari kekosongan, tidak ada dasar yang terdiri dari bukan presepsi dan tidak bukan presepsi, tidak ada dunia ini atau dunia lain ataupun dua dunia itu, tidak ada matahari atau rembulan, di sini saya katakan tidak ada kedatangan, tidak ada kepergian, tidak ada yang tertinggal, tidak ada kematian, tidak ada kemunculan, tidak terpancang, tidak dapat di gerakkan, tidak mempunyai penyangga, inilah akhir dari penderitaan.

Adalah Mukthi, kebebasan yang terjadi dari telah menjalankan tiga dasar Dharma. Bhatara Raja menganugrahkan kepada manusia melenium kedua sastra Raja Pinulah yaitu Ilmu Kaweruh Dalam Siwa Buddha yang menceritakan manusia lahir dengan tanggal gaibnya. Dari Timurlah semua berujud yang tak lain adalah Sang Surya Raditya. Raja Trah Dewa adalah sejarah dari masa lalu dan di masa sekarang diabaikan. Perubahan adalah kekal tetapi pengulangan sistem adalah mutlak. Akan selalu ada Para Raja Dewa Titisan yang mulia, muncul karena kelahiran dan membawa kembali sastra Tantra yang telah diusangkan manusia modern. Intinya pada jaman Kali. Ingatlah, sampai kapanpun cerita ini akan berulang hingga semua jabang bayi lahir di bulan Purnama.

Pur adalah jambuh yang artinya adalah rupanya sempurna. Na artinnya no atau ono maujud dan Ma artinya  madep atau menghadap kepada ujud. Langgah duduk, ibarat sinar dari Surya Raditya. Wekasnhing Wetan adalah wiwitan manusia, karnanya manusia memuliakan sang surya. Kemarin, sekarang dan besok adalah bhutakala yang ditakuti seharusnya diminati. Itulah kaweruh raga yang tercipta diibaratkan kereta dan sukma adalah penunjuk arah dan apabila penunjuknya salah arah jarum, tentunya celaka kereta pecah dan manusianya rebah. Ilmu kaweruh adalah mencari tahu empat kanda adalah bhuta bagi yang tidak menemukan bintang sebagai sesuluh. Tidak mengerti wiwitannya adalah Timur. Lupa Ibu dan bapak adanya di Barat, selanjutnya kidul atau Selatan adalah istri yang ditusuk perutnya dan disanalah ditempatkannya api sebab api adalah dasar dari ke-adaan dan Utara adalah munculnya jabang bayi di waktu purnama yang membawa kesempurnaan wujud mendapatkan suputra yang mengerti kanda pat sari dan hilangkan kebodohan dari menakuti bhuta. Bhuta adalah tidak pencerahan. Kanda pat bhuta tidak eling empat arah, Kanda pat sari asal dari semua yang harus diketahui. Paham empat arahlah kehidupan lekang oleh waktu. Ilmu kaweruh dalam Siwa Budha adalah Ilmu Pengetahuan mencapai kehidupan langgeng atau kekal tidak akan mati. Hyang Sabdo Palon Nayo Genggong adalah Hyang Sadasiwa menempati Trinetra yang rahasia, Beliau adalah Sang Hyang Purohita, lintang yang membawa adanya Dewa Suci, Guru Suci, penuntun mencari jawab kanda pat butha ke dalam hidupnya manusia. Puri dari raja Trah adalah awalnya sastra. Para adalah penyeroan, abdi yang belajar dari sastra. Purana adalah pengetahuan menjadi sastra oleh wiku yang berhasil pencerahan. Pura adalah rumahnya Leluhur. Purohita adalah pencerahan dari sinar suci. Puri, Para, Pura, Purana dan Purohita demikianlah Bhatara Raja memberi pengetahuan kepada saya. Sudra, Waisya, Satria dan Brahmana pada jaman ini tumbuh dan besar pada tempatnya. Hyang Sabdo Palon menyiratkan, Wayan, Ketut, Made, Joko, John, apapun embel-embelnya andai mampu melaksanakan Tiga Dasar Dharma dialah Brahmana yang memahami Ilmu Kamoksan. Ilmu Kaweruh Dalam Siwa Budha adalah Ilmu Pengetahuan mencapai kehidupan abadi dan kebebesan. Moksha adalah kehidupan abadi yang bebas dari penderitaan. Moksha adalah menyatunya Panca Mahabhuta atau lima elemen spiritual dan lima elemen bumi, Pikiran dan Roh. Ia kemudian menjadi penghuni alam Bodhisattwa dan menjadi Paratman atau Dewa Bodhisattwa.

 

Baiklah duhai kerabat, Kundalini fase ke VI adalah 'ngeregep' atau merapal mantram meringkas raga, aji Pralina yang mengandalkan kekuatan dari lima elemen spiritual; Apah, Teja, Bayu, Pertiwi dan Akasa. Mulanya air di dalam tubuh dihangatkan dengan api. Terjadilah tenaga di pusar-tentien yang sebenarnya adalah bayu. Mohon kepada Hyang Pertiwi agar bersatu dengan Akasa di chakra anahata. Adalah Sang Hyang Aji Wairocane penguasa dalam kekuatan Kiwa yang menguasai kekuatan yang bertumbuh. Hyang Aji Wairocane menjaga manusia wikan dari roh-roh iblis agar tidak ikut dalam perpindahan materi. Atau mengambil kekuatan dari putaran prana yang sangat dahsyat. Setiap kadar tubuh yang adalah kimia murni memunculkan kekuatannya yang dahsyat. Kucontohkan photassium cianida yang berpadu dengan kadar lain akan memunculkan getaran dahsyat yang menghancurkan di alam phisik. Dalam proses ngeregep, satu demi satu kekuatan dari empatpuluh kadar tubuh muncul ke dunia phisik. Kemurnian pikiran dalam memahami hukum materi akan membawa kekuatan dari photassium cianida. Paduannya dengan unsur apah dan teja akan memunculkan gempa di alam phisik. Kesabaran demi kesabaran akan mencapai keadaan. Alam semesta sudah mengaturnya. Moksha adalah sistem kesemestaan yang tidak bisa dicapai dengan membaca buku sastra, namun lakon dan lakon dharma. Yoga dan meditasi adalah persembahan jiwa kepada Brahman. Agama memberi kita nilai sosial. Berantem, adu mulut, mengeluh, dan yang tidak patut lainnya dalam yadnya adalah gagal dalam beragama.

Duhai murid-muridku, oleh karenanya Aku berkeluh kesah kepada Sang Hyang Sabdapalon, Sang Hyang Purohita:

"Hyang, manusia sudah gagal melaksanakan Agama. Susah untuk mencapai pun hanya Tri Kaya Parisuda. Hamba ini manusia, bingung  jadinya mengenai Agama". Dihadapannku adalah Pratima Hyang Sabdapalon. "Lalu bagaimana manusia bisa berevolusi dan mencapai moksha?".

'Terus menurutmu bagaimana agar engkau bisa berevolusi?', ketajaman pendengarannku mengangkap sabda Hyang Sabdapalon. Hanya sekilas Aku berani memandang dengan mata bathin, kearifanNya.

"Hyang, hamba akan memulainya dari dasar. Atman pada diri manusia adalah Brahman. Hamba telah dianugrahi konsep Tiga Dasar Dharma, akan tetapi lebih menarik kalau memulainya dari hubungan manusia dengan manusia. Pinisepuh mengajariku mengenai Guru Kosmis yang tak lain adalah Ilmu dasar dan utama dari Evolusi. Mohon petunjuk Hyang...".

'Anakkku, Mukthi, Hyang merestuimu. Itulah suatu kadaan yang akan membawa kebaikan dalam diri manusia. Itulah Agama Budhi di masa yang akan datang'.

Selanjutnya sepi, 'Om Sadasiwa Ya Namah Swaha, Om Sang Hyang Purohita Ya Namah Swaha', Om Sadasiwa hamba bersujud kepadaMu, Om Sang Hyang Purohita hamba bersujud kepadaMu. Demikianlah aku bersujud dihadapan Pratima Hyang Sabdapalon.

Moksha terjadi manakala tidak ada dunia itu dan dunia lain. Semua unsur materi tidak ada yang menyangga karena stabil, karena ada kedatangan ia akan pulang. Materi kembali ke unsur yang murni dari lima sifat dasar penciptaan yang intinya adalah api, demikianlah Brahma adalah simbolisme dari Agni. Wadag kemudian menjadi gesang, geseng dan merapuh dalam pandangan tetapi sesungguhnya hanyalah mengecil sampai menjadi inti adalah nucleus yang tak lain adalah protein. Inti dari protein adalah mineral, mineral adalah pembentukan dari unsur bola-bola anergi atau orbs. Sinar dari orbs inilah menunjukkan sifat dari pencapain, oleh karenanya ada bola-bola energi bersinar dengan intensitas kuning keemasan tertentu yang menunjukkan roh itu suci atau hanyalah abu-abu pekat dan hitam untuk roh-roh gentayangan dan roh kegelapan.

Tetapi manakala, niat suci untuk kembali dengan jalan moksha dilakukan tidak dengan dasar pengertian dari kanda pat butha dan kanda pat sari, kurang paham Ilmu Sangkan Paraning Dumadi dalam kekekalan makna Kaweruh Siwa Budha, dalam proses meringkas raga terjadilah kemacetan penguraian unsur kimia. Stitthi dari tiga keadaan Bhur, Bhuah dan Swah tidak sempurna ditempatkan pada kekuatan dari Dasa Bayu. Jembatan micro kosmos menuju makro kosmos tidak utuh, putus-putus, ibaratnya transfer data dari server tersendat-sendat. Sehingga terjadi server tidak ditemukan. Loading atau akses data semesta, Ancaka, dari catatan karma di tulang punggung atau nadi Shusumna atau Wisesa tidak sinkron maka proses pengecilan tubuh gagal. Dari pengalaman macet di ukuran limabelas sampai duapuluh sentimeter, maka jadilah manusia tersebut yang disebut Bhatara Karang, atau Jenglot. Dalam keajaiban masa lalu, disebut sebagai Bhatara Karang karena pada sejarah masa silam Jenglot ditemui di pesisir pantai dan di atas batu karang. Keyakinan dari suatu paham di masa silam adalah menggunakan kekuatan dari unsur Apah di segara dipertemukan dengan Api Petir di saat hujan. Persatuan dua kekuatan ini dikhianati dengan mengambil dua kekuatan untuk menciptakan Bayu. Pinisepuh mengajarkan bagaimana bagi tubuh yang sudah sempurna pada organ spiritual bisa dipacu pergerakan chi atau prana dengan menyerap tenaga dari petir di pantai. Kaki berada di air garam sementara unsur Tengen atau tangan Kanan diacungkan ke udara dan menangkap petir sementara kekuatan Kiwa, tangan kiri menuju pasir, pertiwi sebagai pembumian atau ground dari kekuatan listrik. Petir hanya suara gunturnya yang menakutkan dalam konsep spiritual tinggi. Membiarkan tubuh dialiri listrik petir akan menyempurnakan jalur-jalur prana yang jumlahnya tak terhingga di dalam tubuh. Praktik ini hanya untuk yang sudah menerima anugrah Mustika Dewa, bukan dari perkembangan Tantra Sastra. Maka sedemikian buruknya itikad manusia yang ingin mencapai moksha dengan untung-untungan. Di sini Aku mengingatkan bahwa Sastra Kamoksan yang ada di muka bumi tidaklah tuntas. Moksha tidak akan terjadi dengan sendirinya dari proses jadi pertapa. Bahkan seorang Pertapa atau Yogi sejati yang telah mencapai keadaan siap moksha harus turun gunung melakukan tahapan Guru Kosmis. Ia harus melakoni menerima dan memberi. Moksha adalah anugrah dari Paratman atau bahkan salah satu dari Aditya Dewa. Yang tertinggi adalah dimoksakan oleh Sang Hyang Narayana, orang yang dimoksakan oleh Hyang Narayana akan bergelar Sang Hyang Musokaton. Dan terjadinya di jaman Kali. Aku segera akan mensastrakan pituah dari Sang Hyang Narayana yaitu pada Kalki Kali Yuga Purana Purohita.


Fase Kundalini VI yang berhasil akan menghilangkan tubuh dari pandangan mata phisik. Sebenarnya adalah perubahan materi karena sifat kekekalan materi. Dalam kematian, lima elemen spiritual dan lima elemen bumi harus dipisahkan dari Tiga Guna; Satwan, Rajas dan Tamas dengan cara membakar wadag dengan api. Kalau tidak dimusnahkan unsur pembentukan wadag maka sang roh akan menjadi setan penunggu kuburan, berabad-abad terbelunggu oleh sifat Tiga Guna, menunggui lima unsur bumi atau tulang belulang. Yang tidak tahan menunggu sisa dari tubuhnya akan bergentayangan menjadi setan dan bahkan pocong dan peristiwa alam gaib adalah menjadi murid dari iblis dan menjadi dajjal. Akhirnya adalah roh-roh jahat yang mengganggu alam manusia dengan membawa sifat bencinya. Mati hanyalah raga, jiwa abadi dan terbelenggu di alam kubur. Karena membawa ingatan masa hidup, roh yang masa hidupnya kelam menjadi-jadi dengan asutan dajjal. Namun adakalanya setelah menjadi roh ingat akan hutang-piutang, ia terbelunggu materi, maka jadilah ia bangkit dari kubur mencari orang yang dihutangi. Yang terjadi adalah suatu ketakutan bagi yang didatangi, namun dengan mengatakan hutang-piutang lunas, pocong  akan segera pergi dan pocong terus mendatangi orang-orang yang bersangkutan dengannya hingga semua akibat karma tuntas dan roh tenang di keadaannya. Semua roh yang tidak mendapat sinar karena terbelenggu sisa unsur lima elemen baru akan kembali menjadi mineral pada jaman Kali. Seorang pandita sakti akan melantunkan bait mantram roh di depan api Kunda Agni Hotra agar semua roh mencapai Kawitan. Sang Rudram adalah yang berkewenangan mengembalikan unsur penciptaan ke asal mula, dan roh menunggu reinkarnasi. Kukatakan Ka adalah tujuan Witan adalah tempat. Sedangkan moksha adalah menyatukan lima unsur spiritual dan lima unsur bumi dengan sang Jiwa atau Atman atau Roh. Atau menyatukan badan wadag beserta unsur-unsurnya dengan Atman, bukan hanya berkesadaran roh pada wadag kasar, tetapi berkemampuan selayaknya Tiga Dewa; Brahma, Wisnu dan Siwa dalam batasan tujuh Hukum Tuhan. Moksha adalah hidup abadi dan sempurna sebagai manusia.

Aku bertanya kepada Bhatara Raja dan Hyang Mpu Kuturan: "Hyang Maha Guru, andainya setelah mencapai tahapan Kundalini Fase VI dan tidak bisa mencapai moksha, apakah karma ini akan dibawa pada kelahiran berikutnya?". Manusia yang mencapai tahapan ini atau pada tahapan terhapusnya karma yang disebut tahapan Niskama Karma ia akan mati dengan membawa ingatan sadar. Moksha ada banyak tingkatan. Manusia yang pada fase ini telah berkesadaran Roh, yang mati hanyalah raganya. Roh ini mendapat tempat istimewa di alam Roh, karena konsepsi evolusi harus abadi dalam pengertian menyatunya jiwa dan badan, ia akan reinkarnasi kembali walau rohnya sudah berkesadaran. Istimewanya Ia bisa memilih janin yang akan membawa jiwanya menuju bumi. Boleh memilih keadaan duniawi tempatnya lahir dan mengetahui berbagai resiko yang akan dialaminya dari kemunculannya. Dicontohkan oleh Pinisepuh, kalau memilih orang kaya maka siap-siap mendapat penderitaan. Memilih orang miskin akan membawa kejayaan bagi keluarga. Janganlah berharap roh Leluhur lahir pada cucu kita, manusia seenaknya membatasi kekuasaan semesta. Aku telah melihat bagaimana roh anjing pada manusia. Aku melihat bagaimana roh wong samar pada manusia di suatu keluarga. Manusia terlalu picik menganggap bahwa anaknya adalah penjelmaan dari kakek atau neneknya. Suatu kepercayaan yang berabad-abad keliru. Bagaimana kalau kakek nenek moyang cuma dua dan keturunannya adalah sepuluh. Lalu siapa mereka yang lahir?

Om Nama Siwa Budha Ya. Kundalini Fase VII adalah penyempurnaan dari sistem tubuh astral. Kekuatan Tri Murti yang membawa pencerahan dan kekuatan dari Tiga Dewa Utama; Brahma, Wisnu dan Siwa diturunkan dengan cara Tantra Subhuti, Ang Ung Mang. Mengerti tanpa belajar, Sidhi dan Shakti yang diangurahkan para Dewa adalah kekuatan untuk merestui umat dan para murid yang memujanya. Ia menjadi manusia hidup abadi, menasehati dan membantu tugas para Dewa untuk merestui umat manusia. Tidak lagi memiliki hak subyektif kepada keturunan sedarah dan segaris. Tidak ada lagi unsur pilih kasih, oleh karenanya pada masa Guru Kosmis ia mendapat anugrah Tujuh Hukum Tuhan atau Tujuh Hukum Kehidupan yang tak lain adalah konsep dasar bagaimana sistem alam semesta bekerja pada tatanan manusia. Tidak semua manusia bisa direstui dikarenakan salah satu hukum adalah sebab akibat. Pun itu adalah anak kandung, yang diperkenankan adalah menuntun ibarat sang penggembala bebek. Keadaan manusia adalah sebagai akibat dari hukum karma. Kalau belum mendapatkan yang diinginkan, tidak cukuplah karmanya. Tidak ada kehidupan manusia yang sempurna sebelum moksha. Hanya manusia yang teguh melakoni dharma mendapati semua keinginannya tercapai. Orang Spiritual akan mendapati dirinya; kaya nama, kaya harta, kaya kesehatan dan kaya ilmu pengetahuan.

Bayangkanlah seorang pendulang emas memutar tempayan yang bertaburan pasir kotor di tambang emas. Yang memiliki Kadar Emas selalu kelihatan oleh sang pendulang. Demikianlah gambaran sederhana berkehidupan sebagai manusia. Semakin mulia harkat dan budi pekerti, semakin dekat dan mendapat perhatian dari para Dewa. Tidak ada suatu kekhawatiran, kekecewaan, putus asa dalam mengejar kemuliaan. Aku berkata kepada para murid, dakilah jalanan terjal, nikmati turunannya. Manakala merasa lelah beristirahat sejenak, namun janganlah sampai tertidur. Begitu tertidur pulas dan mimpi, lupa kalau jalan itu banyak cabangnya. Tetaplah pada keteguhan manakala badan dan pikiran sudah segar. Dakilah lagi jalanan bebukitan dengan kerongkongan kering. Banyak puasa membantu. Jangan menjadi pengkhianat jalan Dharma. Dharma adalah kesetiaan di dalam kesetiaan ada disiplin. Di dalam disiplin ada Ilmu Tindakan. Selanjutnya, manusia yang telah mencapai moksha, ular suci Kundalini berjumlah lima, di alam moksha masih ada perjalanan lain untuk kesempurnaan. Para Dewa Bodhisattwa mempunyai alam sendiri yang disebut alam Bodhisattwa. Di sana Paratman ini harus meningkatkan diri lagi untuk mencapai ular Kundalini mencapai Tujuh dan mendapat sebutan Buddha dan menempati alam yang berbeda dengan alam Bodhisattwa alamnya adalah Alam Budha. Hyang Mpu Kuturan adalah Maha Guru dari para manusia hidup abadi, Hyang Mpu Kuturan dan atau Panca pandita Agung semuanya telah mejadi Budha, demikian pula Dalem Sidakarya dan Dhang Hyang Dwijendra. Tiga Paratman Yang Disebut Dwijendra yaitu Hyang Mpu Kuturan, Hyang Peranda Sakti Wau Rau dan Hyang Rsi Markandeya.

Muncul suatu pertanyaan untuk Pinsepuh dan Hyang Maha Guru Mpu Kuturan. Apakah setiap manusia yang telah mencapai tahapan tertentu dalam kebangkitan spiritual akan mendapat bimbingan dari para Dewa atau Paratman?. Manusia jangan ragu, setiap ada manusia peningkatan dalam lakon spiritual adalah mendapat Ista Dewata yang membimbing. Namun ada peristiwa karena karma baik masa lalu, di Bali adalah suatu kejadian 'Kacunduk' atau harus memuja Bhatara, Leluhur atau Dewa tertentu. Namun karena ketiadaan sastra yang benar mengenai Kacunduk, banyak orang menghindar dan takut. Sebenarnya kejadian ini adalah karena aktifnya sifat Tengen akibat dari perbuatan baik masa lalu. Hal ini harus disikapi dengan baik dan hendaknya melatih kekuatan Kiwa, tempuhlah lakon yoga dan meditasi. Kembali kepada dasar pemahaman spiritual, bahwa moksha terjadi karena penyatuan Kiwa adalah hasil dari lakon yoga dan meditasi dan Tengen adalah dari lakon ritual atau yadnya di Bali. Moksha adalah penyatuan Kiwa-Shakti dan Tengen-Sidhi. Jadi yang berhasil dalam melakoni Agama dan menjalankan pakem yadnya atau persembahan yang tulus, membawa manusia Bali menerima hadiah Kacunduk dan menjadi Sidhi. Namun keterbatasan pengetahuan banyak yang sudah Sidhi menjadi Ego, berlindung dibalik Dewa atau Leluhur dan kembali jatuh dengan ego dan tidak kurang yang hancur hidupnya.

Kesalahan manusia mengartikan Kiwa adalah Leak atau Liak penyebab utama menurunnya minat memperdalam Kiwa. Kiwa adalah Ida dari sistem tubuh spiritual. Kekuatannya muncul menjadikan manusia Indigo. Pada puncak tertingginya disebut Shakti. Liak adalah Linggih Ulian Aksara, tubuhnya berevolusi karena memahami sastra, bukanlah kejahatan dan salah. Diibaratkan pisau dapur yang dipakai membuat persembahan dalam yadnya atau membuat banten adalah baik tetapi apabila pisau dipakai untuk membunuh manusia pastilah buruk. Oleh karena pemahaman mengenai jalan moksha yang minim menjadikan umat ketakutan, umat risih bahkan menuduh orang yang meningkat karena Kiwa sebagai orang jahat dan patut dibenci bahkan harus dihancurkan. Aku bertanya kepada para murid: "Berapa orang yang mati karena Leak? dan berapa orang yang mati karena sepeda motor, mobil, bis dan senjata pembunuh?" Marilah membangun suatu kesadaran spiritual di dalam diri dan meningkatkan evolusi sebagai manusia menuju kesempurnaan. Kematian adalah proses karma dan tidak terjadi begitu saja. Baiklah, demikian pula kebangkrutan ekonomi tidak terjadi begitu saja. Semua yang terjadi pada manusia adalah proses karma, tebuslah dengan bhakti kepada Leluhur dan para Dewa.

Pinisepuh berkata: "Engkau kuajarkan untuk melihat masa lalu bukan untuk memperbaiki karma burukmu. Engkau kuajarkan melihat masa lalu agar meningkatkan diri dan meningkatkan sradha bhakti dan mengagungkan makna dari Panca Sradha. Ada alasan yang sangat besar atas keberadaan semesta dan isinya. Engkau bukan tiba-tiba muncul di muka bumi dan berlaku seenaknya. Sedang pengetahuan masa depanmu bukan untuk dicurangi demi kemewahan duniawi!".

Baiklah para sahabat pencari jalan moksha, Aku dianugrahkan Ilmu Sangkan Paraning Dumadi yaitu Ilmu Kaweruh Dalam Siwa Budha, induk dari semua sastra sejak jaman Hyang Rsi Agastya dan muridnya Rsi Markandeya yang membawa Weda Sirah sampai jamannya Panca Pandita. Leluhurku adalah Ki Ageng Pasek Gelgel abdi setia Dalem Majapahit di masaNya, dituntun oleh Hyang Mpu Ghana. Leluhurku telah menitipkan Aku kepada Pinisepuh Puri Agung Dharma Giri Utama, Bhatara Raja Wilatikta XIV. Telah kuceritakan bagaimana Pinisepuh menggemblengku hingga siap menerima berbagai wisik dan sabda dari para Dewa. Kemudian Hyang Mpu Kuturan memberi petunjuk, bahwasanya dharma bhakti utama kawula adalah bhakti kepada Raja dan bhakti di Puri. Kemudian melalui Pinisepuh diberilah nama Abhiseka Pasek Mukthi Murwo Kuncoro. Pasek adalah Pelaksana Sesana Kawitan, di jaman ini Para Dewa dan Paratman mengamanahkan agar memberi bimbingan kepada semua sentana Bhatara Kawitan sebab Mukthi adalah aset dunia termasuk berbagai Pengetahuan atau Kaweruh Dalam Siwa Budha. Murwo Kuncoro artinya Ngider Bhuwana. Sekarang, sampai di sini kembali para kerabat, sanak saudara, para murid dan pencari jalan dharma dihadapkan pada ujian Trikaya Parisudha, apakah engkau adalah mulia semulia emas yang sedang didulang oleh penambang emas?, atau terbuang karena kurang mulia atau bahkan hanyalah debu kecil yang tidak berguna dan hanyut kembali di sungai berbau dan menuju pemurnian roh di lautan.

Akhirnya manusia yang telah menerima kekuatan Tiga Dewa pada Kundalini Fase VI mempunyai hak istimewa pada Kundalini Fase VII dan menikmati pencapaian itu sesukanya dan patuh pada tujuh hukum Tuhan. Dengan kekuatan penciptaan dari Dewa Brahma, orang moksha mampu muncul di dunia dengan wujud phisik dan berjalan napak bumi selayaknya manusia biasa. Pada tahapan ini Aku katakan bahwa Mokhsa atau Mukthi adalah Ilmu Pengetahuan sejati. Juga berarti kebebasan. Hyang Mpu Kuturan dan Pinisepuh mengatakan, Mukthi adalah kebebasan. Orang moksha boleh hidup di dunia dengan menciptakan tubuh baru sesukanya seperti wujudnya dulu atau baru. Diwenangkan juga lahir kembali dari Janin yang telah dipilih olehnya karena suatu misi. Manakala ia memilih lahir kembali dari Janin, berbagai kemampuan dan pencapaiannya akan berkembang sesuai dengan perkembangan organ phisiknya dan juga bisa mengetahui dan mengenali semua hal yang pernah berhubungan dengannya di masa kehidupannya yang terdahulu.

Duhai para murid dan kerabat demikianlah cerita singkat mengenai Ilmu Kamoksan yang Aku tulis dari wisik, sabda dan petuah dari Pinisepuh Puri Agung Dharma Giri Utama yang dimuliakan para murid sebagai Bhatara Raja.

Om wilaheng astu namo sidyam, luputo salah lan sandi luputo denane tawang towang jagat dewa bhotoro jagat hyang pramuditya bhuwana langgeng rahayu rahayu rahayu sagung dumadi.

 

Pengurus

Sample image Jro Mangku Panji
Pemangku
Sample image I Gusti Ngurah Suarnita
Ketua
Sample image I Gusti Ngurah Budi
Wakil Ketua
Sample image Kadek Ardi
Sekretaris 1
Sample image I Gede Sukadana
Sekretaris 2
Sample image I Wayan Sudiawan
Bendahara 1
Sample image I Gede Somada
Bendahara 2
Sample image Ni Komang Sumadi
Ketua Dharma Ayu

Hubungi kami

PURI AGUNG DHARMA GIRI UTAMA

Jl. Tegal Harum No 7 Biaung
Denpasar Timur- Bali 80237
Tel: 081558707862
Email:info@dharmagiriutama.org
Web: www.dharmagiriutama.org
 
PURA PUROHITA
Lembah Dusun Benyahe,
Desa Unggahan, Seririt,
Buleleng, Bali.
Jro Mangku Wana
0878-6012-7699
Posisi anda  : Home Artikel Tattwa dan Pencerahan Mustika Dewa - Manusia Setengah Dewa