Situs resmi Puri Agung Dharma Giri Utama

Tantra - Tiga Dasar Dharma Cetak Email
Ditulis oleh Ida Pandita Mpu Paramadaksa Purohita   

Prana atau Chi

Adalah sinar putih terang keunguan pada ubun-ubun manusia yang disebut sinar Antahkarana. Warnanya indah gemerlapan tidak terlukiskan kata-kata. Ia masuk menembus wadag dan berujung pada tulang ekor , di bawah tulang ekor adalah letak dari chakra Muladhara atau chakra dasar.  Keadaan selanjutnya, api suci hidup pada inti dari chakra Muladhara. Api tersebut adalah api Brahma Chakra. Peristiwa ini terjadi pada saat pertama kali jantung manusia berdenyut di dalam kandungan sang ibu atau goa garbha.

Penciptaan manusia di awali dari penyatuan Lingga dan Yoni. Para wikan menamakannya 'Yoga Sutra' untuk memberi arti sakral dari persetubuhan. Bukan hanya terjadi dari proses Kama yang berkeinginan mutlak. Harus dibekali pengetahuan yang benar dari sastra yang disebut Moksha. Sebab kekuatan dari yoga sutra akan menciptakan keadaan penambahan materi baru di bumi yang disebut Artha. Hendaknya ada unsur dari kasih sayang yang disebut Dharma.

Selanjutnya, yoga sutra hendaknya didasari dari perkataan yang baik dari pikiran yang baik agar mendapatkan suatu keadaan perbuatan yang suci dan penuh kebaikan.  Untuk menciptakan suputra yang akan membawa amanah Sang Pencipta agar terjadi evolusi yang berkembang dan meningkat di alam semesta.

Guna Satwam, Rajas dan Tamas mengikat sang Roh di dalam tubuh manusia yang tercipta karena dimaterialkan oleh sifat sejati dari ilmu Tantra. Tubuh yang mengandung empat puluh kadar tubuh, yang paling mulia adalah logam mulia dan batu mulia. Dalam bentuk murni dari batu mulia adalah Mustika Dewa. Dalam sejarah manusia hanya Aswatama yang diceritakan mendapat Restu Mustika Dewa sebab pada jaman Beliau sedang terjadi suatu sejarah Awatara Krisnha yang turun ke bumi sehingga pandangan para sastrawan menulisnya sebagai bentuk sastra dalam Weda.


Apah, Teja, Bayu, Pertiwi dan Akasa adalah Air, Api, Angin, Tanah dan Eter adalah unsur pembentuk tubuh manusia yang disebut Panca Mahabhuta atau lima elemen spiritual. Roh terikat dengan Panca Mahabutha karena ketiga sifat dasar Triguna. Setelah materi terbentuk sebagai wujud, unsur dari empat puluh kadar tubuh yang sebenarnya adalah sifat kimia yang ditemukan manusia yang mana sebenarnya dalam peradaban bangsa Cina telah dikelompokkan sebagai lima elemen yaitu tanah, air, api, kayu dan logam yang saya sebut sebagai lima elemen bumi. Sesungguhnya elemen api yang tidak bisa diciptakan dalam proses alam sebab api adalah dasar dari semua keadaan dan keberadaan. Demikianlah Dewa Brahma yang menguasai proses penciptaan memulainya dari unsur api. Dewa Wisnu memberinya zat cair dan Dewa Siwa memberinya ruang. Ruanglah yang tidak terbatas dan tidak  mampu ditembus oleh batas pandangan manusia yang belum sempurna. Munculah sastra yang disebut Kandha Pat Bhuta yang sebenarnya artinya adalah kandha=arah, pat=empat, dan bhuta=tidak diketahui ujungnya dan harus ditembus oleh manusia dengan cara meningkatkan kesadaran dari unsur pencipataan baik lima elemen spiritual dan lima elemen bumi.

Penopang pergerakan dari semua yang berwujud dan tak berwujud adalah prana, untuk manusia melalui sinar Antahkarana prana masuk ke dalam tubuh. Selanjutnya dalam berkembang, prana menjadi lima guna sesuai dengan berkembangnya Tantra. Para Leluhur dan Guru memberitahu akan maksud dari adanya prana di alam semesta. Siapa Leluhur? yaitu Ibu dan Bapak dan semua Roh dan berbagai Arupa yang tak lagi berwujud dan terbentuk serta yang terkait dengan keberadaan Bapak dan Ibu. Sesungguhnya inilah rangkain DNA yang diketahui oleh manusia jaman Milenium ini. Rahasianya terbungkus dan hidup oleh prana, orbs salah satu bentuk prana yang berhasil diabadikan kamera modern.

Siapa Guru? Siapapun dan apapun yang memberi pengalaman penting dalam proses mengetahui dan maha mengetahui adalah guru. Tetapi Guru Mahakoala adalah Guru sejati yang tertinggi dalam menjabarkan suatu bentuk kesetiaan. Pada jaman munculnya Awatara adalah muncul para Guru Mahakoala dan satu diantara para Guru adalah Awatara.

Apa Awatara? Bukan apa Avatar tetapi siapa Avatar atau Awatara?. Beliau adalah wujud manusia dengan membawa kekuatan restu maha tinggi dan sekaligus membawa suatu kekuatan kutukan. Adalah turunnya Dewa menjadi manusia dengan sengaja ke bumi karena suatu misi dalam suatu komunitas bahkan trah dan ras dari suatu manusia. Untuk menangani dan menjaga klimaks dari suatu penghancuran entitas di bumi oleh dirinya sendiri.

Kekuatan yang dibawanya adalah semua kekuatan para Dewa. Dewa yang mana? Dalam pendalaman arti kata yang dimengerti manusia, masih membedakan kekuatan alam semesta hanya dari nama Dewa. Bukan Brahma, Wisnu atau Siwa, sebab penamaan adalah suatu pandangan sempit dalam pengertian kekuatan. Awatara bisa sebagai Dewa yang mana saja, karena semua kekuatan para dewa dibawanya lahir. Kutukan yang dibawa adalah;  menderita sebagai manusia biasa sebab semua kesengsaraan didengarnya dan di alaminya. Bukankah Awatara Krisnha wafat karena panah dari seorang pemburu?. Awatara tidak pernah merasa nyaman sebab semua frekwensi masuk ke dalam keberadaannya sebagai wujud material. Manusia lain mengenalnya sebagai manusia biasa dan hanya orang yang mempunyai budi dan roh tua mendapat kesempatan dekat dan setia sebagai abdinya dalam berbagai keadaan. Suka, duka, lara, pati dialami Awatara.

Beliau mengelabui manusia licik, curang, serakah, tidak berbudi dalam pandangan materi dan alam duniawi. Para Bhatara Kawitan sesungguhnya berlomba-lomba menitipkan keturunanNya agar mendekati Awatara dengan maksud agar para keturunan dari trah dan DNA mengalami perbaikan evolusi. Sebab evolusi manusia adalah tujuan utama dari kehidupan manusia. Pada jaman Kali adalah sistem kesemestaan akan mencapai putaran penyetaraan atau sifat dinamisme Mandala Swastika akan menjadi konsepsi Yin dan Yang yaitu keseimbangan dari proses evolusi.

Turunnya Awatara mengawasi keseimbangan prana di alam bumi dengan kuantitas dan kualitas tertinggi. Yang sudah tidak bisa dipertahankan kembali pada proses penyetaraan rendah, mengalami kehancuran dari berbagai cara yang telah dipilihnya. Mati dengan perbuatannya. Sedang yang mampu menyerap prana akan mendapat restu dari sang Awatara.  Meningkat dalam berbagai aspek kesadaran. Api sebagai dasar proses penciptaan menjadi besar di chakra Muladhara dan prana yang masuk dari sinar Antahkarana diolah di chakra pusar atau chakra Manipura yang berunsur air. Kekuatan api Brahma Chakra semakin besar dan sinarnya meluncur ke atas menuju ubun-ubun adalah letak dari chakra mahkota atau Sahasrara. Hiduplah kekuatan dari Bhur Bwah dan Swah di dalam diri. Swah adalah kekuatan dari Eter yang wujud sesungguhnya semua dari Panca Mahabhuta.


Filsafat Untuk Mencapai Moksha dan Konsep Penciptaan Kembali

Penciptaan berarti:

  1. Bertumbuh dengan ikatan dan aturan.
  2. Menjaga semuanya teratur dan melindungi semua ciptaan dari ketidakteraturan adalah bisa dilakukan dengan menjaganya.
  3. Membagi Dunia makro dan menjadikannya dengan bentuk mikro adalah samhara (penghancuran).
  4. Dan menjaganya hingga penciptaan yang berikutnya adalah Thirodhana Sankalpa (mengalami kemunduran, atau Kembali). Keempat proses ini saling berhubungan.
  5. Yang paling akhir dan paling Utama adalah  Anugrah (berkah suci, restu) yang membebaskan persembahan mukti (pembebasan).

Hanya Dewa Siwa yang mampu memberikan anugrah atau berkah. Kebebasan untuk mencapai mukti (pembebasan, moksha) semuanya terlahir dari bumi.

Hanya dengan Air semuanya bisa tumbuh.
Hanya melalui Cahaya dan kehangatan mereka akan pergi.
Hanya dengan Udara dan ke dalam udara mereka akan hilang.
Hanya pada Pertiwi kehidupan itu tampak nyata.
Hanya Akasa yang nyata yang berarti ia dengan wujud Dewa Siwa.

Untuk menjalankan kelima fungsi dan konsep ini, Dewa Siwa memiliki Lima wajah.
Sementara Dewa Brahma dan wisnu menciptakan dan menjaga. Penghancuran dan penarikan Kembali penciptaan dilakukan oleh dewa Rudra dan maheswara. Di Bali Dewa Rudra manifestasinya adalah Ratu Gede Mas Mecaling yang dikenal sebagai Ratu Gede Dalem Ped.

Jadi Dewa Siwa mampu melakukan tugas semua itu, kelima fungsi itu.

Tapi karena Dewa Siwa adalah wujud Tuhan itu sendiri, maka Dewa Siwa adalah yang disebut Acintya; tak bertugas, tak terpikirkan dan tak terbayangkan karena wujudnya Rudra, Maheswara dan Iswara. Wujud yang sama itu disebut (Vesya), tempat duduk yang sama (asana), kendaraan yang sama (wahana). Jadi itulah sifat maya Dewa Siwa dan keAgunganNya.

Pinisepuh: Kamis, 21/06/12


Kesaktian dan Sidhi Tertinggi

Adalah sifat Kiwa yang mewakili sinar biru yang muncul dari chakra yang baru muncul pada saat api Brahma chakra hidup di chakra Muladhara. Adalah sifat Tengen yang mewakili sinar merah dari titik chakra yang bersumber dari kelopak bunga sisi kanan dari chakra Muladhara. Kekuatan Kiwa adalah disebut dengan Shakti yang muncul karena olah tubuh dengan yoga dan meditasi. Sedang kekuatan Tengen adalah Sidhi yang dicapai dari laku budhi tinggi yang mumpuni. Shakti adalah kekuatan murni yang ada di dalam tubuh sedangkan Tengen adalah restu dan berkah dari para Dewa. Sifat dua kekuatan ini adalah dualisme, karena sifat dari unsur manusia yang masih membawa sifat Triguna.  Kesadaran tertinggi akan tercapai dari dua kekuatan tersebut manakala manusia mampu mengikatnya dengan sabuk prana yang dalam 'Kaweruh Siwa Budha', disebut sebagai Dodot. Mengikat semua unsur kimia yang ada di alam semesta agar berperan sesuai dengan sifatnya. Saling melengkapi dan tumbuh pada tempatnya.

Yoga adalah perbuatan yang baik sedang meditsi adalah pikiran yang baik, kata-kata yang baik adalah tidak menjadi halangan kalau sudah berbuat baik dan berpikir baik dengan melakukan meditasi. Dalam meditasilah sesungguhnya manusia menjalankan titah Trikaya Parisudha.  Dalam meditasi sempurna, sinar dari chakra Dasar menuju ke alam Akasa sedangkan sinar Antahkarana yang membawa prana menuju chakra Muladhara. Kekuatan Akasa dan Pertiwi akan bertemu di chakra Anahata. Dalam pencapaian penyatuan yang sempurna, pertemuan setara dari dua sinar ini memurnikan sifat dari semua unsur kimia yang dinamakan kadar tubuh. Pada saat kejadian itu, atau manusia yang mencapai keadaan itu akan menyadari bahwa sang atman adalah Brahman pada manusia. Ia telah mencapai Karuna Budhi yaitu perpaduan kekuatan Shakti dan Shidi. Penyatuan dua kekuatan ini disebut Dharma. Inilah yang disebut sebagai Wisesa. Wisesa ini terjadinya di alam Bwah pada tubuh manusia.

Hakekat tertinggi dari pencapaian yang harus dicapai manusia adalah Dharma. Hanya orang yang telah mengerti hakekat Dharma yang akan mencapai kebebesan, mukti atau moksha. Sesungguhnya Trihita Karana adalah dasar dari semua pencapaian. Ingatlah, Atman pada manusia adalah Brahman. Menghormati setiap yang memiliki pengertian; sabda, bayu dan idep adalah mutlak.


ILMU TANTRA

Saya telah menceritakan sebagian kecil dan penting dari suatu penciptaan dan pencapaian evolusi.  Mantram penghormatan kepada Sang Penguasa Sastra, salah satu baitnya mengatakan:

OM KAWYAM WYA KARAYA TARKAM
WEDA SASTRA PURANAKAM
KALPA SIDHINI TANTRANI
TWAT PRASADAT SAMARABET


Hyang Saraswati yang menggubah berbagai ilmu filsafat, baik dari Weda atau Purana. Namun kekuatan dari waktu yang sudah pasti hanya bisa ditembus dengan ilmu Tantra agar bisa menemukan jalan pulang atau 'Sangkan Paraning Dumadi'. Hanya ilmu Tantra yang sempurna bisa menemukan kandha pat butha. Demikianlah sekurang-kurang yang bisa digali dari pengertian yang bodoh.

Pengetahuan tertinggi dari semua Weda adalah Tantra. Tetapi keberadaan ilmu Tantra ini sangat rahasia hanya manusia dengan budhi tinggi yang telah mengalami, mampu menceritakan. Itupun sebatas dari hal yang boleh diceritakan, oleh karenanya ilmu Moksha tidak akan pernah ada di dunia sebagai sebuah sastra utuh sebab terputus manakala manusia yang telah mencapainya menjadi paham bahwa semua itu akan terus menjadi rahasia sampai batas budhi pekerti tertinggi bisa tercapai. Saat itu terjadi adalah di jaman Kali atau Kali Yuga.

Baiklah, saya akan mengupas suatu proses lahir sampai mencapai moksha. Pinisepuh dan juga Leluhur yaitu Hyang Mpu Kuturan, menganugrahkan Intsari dari Ilmu Tantra sebagai suatu pengertian.

Adalah saya dititipkan oleh Bhatara Kawitan Pasek Gelgel untuk mengabdi kepada Pinisepuh yang bergelar Bhatara Raja Wilatikta XIV yang juga Trah Majapahit dari garis Hyang Wisesa atau Ida Prabu Jayasabha. Selanjutnya Bhatara Raja mengajarkan saya berkomunikasi dengan para Dewa. Sesungguhnya, saya tidaklah pernah diajari sesuatu oleh Bhatara Raja yang saya hormati sebagai Maha Guru, hanya dengan sebuah senyuman dan pandangan mata tajam dan  hanya dengan sebuah sentuhan di titik rahasia, kemampuan itu telah diturunkan. 'Eki, Gea, Evi, Edys', Bhatara Raja berkata tanpa suara. Saya mendengarnya dengan sangat jelas. Demikianlah Ilmu Tantra, tidak diajarkan tetapi diturunkan. Selanjutnya saya dititahkan untuk belajar sastra dari Hyang Mpu Kuturan di Perhyangan Ida di Silayukti. Anugrah yang saya peroleh adalah Ilmu Sangkan Paraning Dumadi atau jalan menuju pulang, yang saya tahu kemudian adalah Ilmu rahasia untuk mencapai Moksha.

Manusia lahir dengan sinar Antahkarana yang hanya sebesar rambut dibelah seratus untuk roh yang baru. Roh tua yang telah beberapa kali reinkarnasi dan telah menjalankan dharma Leluhur bisa mencapai sebesar jari kelingking yang bersangkutan, bahkan ada yang lebih. Semakin besar sinar Antahkarana, semakin besarlah prana yang masuk ke dalam tubuh manusia. Prana ini kemudian diolah di Tantien yaitu tiga jari dibawah pusar. Prana berguna untuk menopang seluruh proses kehidupan. Salah satunya mengolah makanan dan minuman menjadi nutrisi untuk kehidupan manusia. Kalau masih ada sisa prana, maka akan dipergunakan untuk menjaga seluruh organ tubuh. Kalau semua sel dan seluruh bagian tubuh fisik sehat, kalau masih ada sisa prana maka prana tersebut terpakai untuk membersihkan organ non fisik yaitu; tiga nadi utama. Kiwa, Tengen dan Wisesa atau Ida, Pinggala dan Sushumna.

Hyang Mpu Kuturan kemudian menganugrahkan Ilmu nafas Brahma Chakra dan kemudian Meditasi Karuna Budhi dianugrahkan oleh Ibu Dewi Kwan Im. Bhatara Raja kemudian menambahkan berbagai yoga untuk mempercepat perkembangan organ spiritual. Dengan setia menuruti titah Bhatara Raja dan juga atas restu Bhatara Kawitan, karena olah nafas Brahma Chakra dan meditasi Karuna Budhi, chakra Muladhara telah berkembang sempurna. Bhatara Raja kemudian menganugrahkan kebangkitan Kundalini fase I yang disebut Tirtha Amrtha. Pencapaian yang sempurna dari fase ini adalah menikmati berbagai kemakmuran. Sedang yang belum sempurna, kebangkitan Kundalini fase I akan membantu menyempurnakan organ phisik agar mencapai kesehatan dan perkembangan organ spiritual. Selanjutnya, beberapa bulan kemudian dengan bhakti yang dianggap setia, Bhatara Raja menganugrahkan kebangkitan fase II Kundalini yang disebut Bhuwana Langgeng yaitu manusia yang telah mencapai keadaan ini akan terbebas dari kematian karena bencana alam. Pada fase II Ular Suci Kundalini telah berbentuk, sementara pada kebangkitan fase I hanyalah berupa kabut asap putih. Hyang Mpu Kuturan kemudian mengamanahkan untuk membangun Perhyangan dari Sang Hyang Purohita karena saya telah mewarisi berbagai sastra penting untuk manusia di masa yang akan datang. Kemudian diamanahkan untuk melakukan Puja Mantra dengan beberapa Sulinggih di Purohita Pura dengan nama Puja Bhuwana Langgeng. Sang Hyang Purohita tak lain adalah Hyang Sabdapalon yang mana adalah Hyang Sadasiwa. Dalam pengertian tingkatan Para Dewa, Hyang Sabdapalon adalah Kakak dari Hyang Pasupati yang bestana di Gunung Semeru, Lumajang. Hyang Sabdapalon adalah Hyang Semar.

Hyang Semar berkata; bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur kamurkan mardik, yang artinya, merdekanya jiwa dan sukma. Jadi umat manusia dituntun oleh Beliau agar terlepas dari segala penderitaan dan mencapai moksha, mukthi atau kebebasan. Semar sebagai pralambang ngelmu gaib atau simbulnya alam gaib. Kasampurnaning pati. Beliau tidak akan pernah mati karena Beliau sudah mencapai kesempurnaan. Kemudian saya membuat bhisama Purohita, yang isinya; siapapun manusia yang ingin mencapai pencerahan, kebebasan, mukthi dalam olah spiritual tinggi hendaklah mohon restu kepada Sang Hyang Purohita. Pada masa jaman Majapahit Hyang Sabdapalon dikenal juga sebagai Sabdo Palon Noyo Genggong. Sabdo artinya:  pamuwus/pawisik, Palon : pikukuh kandang (penguat negara), Noyo : gebyar wajah (ulat) dan Genggong : langgeng tidak berubah. Bagi para pemimpin negara harus ingat yang namanya Sabdo Palon Noyo Genggong agar lahir batin bisa di empon oleh beliau agar negara ini maju gemah limpah loh jinawi. Beliau sudah distanakan di Purohita Pura sebagai Sang Hyang Purohita. Purohita maknanya adalah orang suci, pencerahan, Dewanya para Dewa, demikianlah Sabdo Palon Noyo Genggong, Hyang Sadasiwa yang menempati antara alis manusia, Trinetra atau mata ketiga, telah bangkit dari tidur selama limaratus tahun karena runtuhnya Kerajaan Majapahit. Memenuhi janjinya.

Selanjutnya Bhatara Raja memberi restu untuk mengajari murid dan membantu kebangkitan spiritual para abdi yang telah menunjukkan kesetiaan kepada Bhatara Raja dan para Dewa. Dengan bhakti yang serius dan tulus, serta taat menjalankan perintah Beliau saya mendapat anugrah kebangkitan Kundalini Fase III yang disebut Tri Netra yaitu semakin tajamnya penglihatan mata bathin dan mata phisik. Proses dari fase III adalah yang paling lama dan rumit dan harus mendapat restu dari para Dewa terutama Ida Bhatari Durga, penguasa kekuatan Kiwa. Pada fase ini, kekuatan dari unsur api telah dipahami yang ditunjukkan dengan kemampuan merubah molekul air mejadi minyak yang bisa menjadi api. Fase selanjutnya adalah membentuk kembali nadi wisesa. Pada saat inilah Bhatara Raja membakar nadi wisesa atau sushumna dan menciptakan nadi baru. Sebelum ini dapat dilaksanakan, harus mendapat ijin dari Bhatara Kawitan sebab proses ini adalah proses menghapus karma masa lampau dan selanjutnya telah mampu melebur karma dengan proses restu dari Bhatara Raja. Tidak lagi menanggung beban karma dari perbuatan masa lalu. Shakti dan Sidhi mendekati nyata. Dalam suatu yadnya mecaru di jeroan Bhatara Raja dan hanya dengan sarana sedrhana beserta  kelengkapannya; kelapa hijau, beras hitam, merah, putih dan kuning serta telur merah dan putih, seusai melakukan puja mantra dan puja caru, Bhatara Raja kemudian menguraikan sarana caru dan mengambil batu mirah dari sisa caru. Inilah kekuatan mantra yang dibarengi dengan Ilmu Tantra. Khusus untuk Tantra dalam mantra, Hyang Mpu Bharadah yang memberi anugrah. Hyang Mpu Bharadah adalah ahlinya Ilmu Tantra. Suatu masa yang akan datang, saya berusaha menulisnya hingga menjadi pakem Pinandita dan Brahmana agar bagaimana mantra itu menjadi Sidhi dan Sahakti dan berguna dalam berbagai puja kepada para Dewa oleh manusia.

Semua hal yang dialami dalam setiap proses anugrah peningkatan adalah suatu proses kimia dalam tubuh. Bhatara Raja melakukan pemurnian dari semua unsur tubuh yang tak lain adalah unsur kimia yang disebut empat puluh kadar tubuh. Di Timur adalah Kayu, di Barat adalah Logam, di Selatan adalah Api, di Utara adalah Air. Ini yang disebut dengan Kanda Pat atau arahnya ada empat. Yang bersifat panas adalah Tengen dan bersifat dingin adalah kiwa. Di pusat adalah panca warna, disanalah wisesa yang memutar kehidupan manusia pada kesadaran yang di bawah, di tengah dan di atas. Terkendali gerakannya manakla semua chakra berkembang. Bagaimana mengembangkan chakra? Demikianlah pertanyaan para murid. Jawabannya adalah menjalankan Tiga Dasar Dharma. Pahami Etika, Filsafat dan Ritual. Hyang Mpu Kuturan telah menganugrahkan bagan evolusi manusia yang sederhana seperti berikut:
 

Spirit adalah Jiwa, Ritual adalah lakon. Ritual didasari oleh Trikaya Parisudha. Trikaya Parisudha didasari oleh Catur Yoga. Filsafat adalah Ilmu dunia materi didasari oleh Catur Purusha Artha. Yang tertinggi dari yang tiga adalah Trihita Karana yang didasari oleh Tri Guna. Susah mencapai kebaikan kalau tidak mennyadari Atman dalam diri manusia adalah Brahman. Inilah ajaran tertinggi yang diajarkan oleh Hyang Mpu Kuturan dan Bhatara Raja agar bisa mencapai Mukthi, pembebasan dari terbelenggu Kanda Pat Butha. Manusia hendaknya menjalankan Tiga Dasar Dharma. Andaikan mampu menjalankannya, dialah ujung dari arah itu sendiri. Dialah pusat dari yang di tengah. Yang paling rendah dari yang di bawah namun yang tertinggi dari yang di atas. Inilah dasar dari Ilmu Tantra yang sangat rahasia. Dengan pemahaman dan lakon yang jelas, kimia tubuh berjalan baik. Komputer  dan software lancar dan semua plugin bekerja baik. Manusia diibaratkan komputer. Semakin tinggi speknya, semakin banyak software dan plugin bisa dijalankan. Saya mencari padanan sederhana, bahwa software adalah Tantra. Manusia adalah komputer yang menerima berbagai kemampuan software. Siapkanlah tubuh agar siap menerima software tercanggih yang ada. Unsur kimia tubuh yang sempurnalah media penerimaan Ilmu Tantra. Konsep ini yang akan mendasari lahirnya keyakinan baru yang disebut Agama Budhi. Pedoman tentang mengembangkan kasih sayang, Dharma. Budhi adalah kasih sayang. Kesaktian yang tertinggi yang pernah dicapai pada jaman Budha Gautama.

Sedemikian banyaknya tulisan dalam Weda, manusia masa kini hanya terpaku pada Ritual, baiklah marilah melihat masa lalu mengenai 4 Yuga, mengapa orang sedemikian bangga dengan ritual pada jaman ini.

  1. Satya yuga, adalah masa kesadaran umat manusia akan Dharma (kebenaran, kebajikan, kejujuran) sangat tinggi. Budaya manusia sangat luhur. Zaman ini disebut juga ‘zaman keemasan’.
  2. Treta yuga merupakan zaman kerohanian. Agama menjadi dasar hidup. Tetapi orang-orang mulai berbuat dosa dan penjahat-penjahat mulai bermunculan.
  3. Dwapara yuga, manusia mulai bertindak rasional. Penjahat-penjahat dan orang-orang berdosa bertambah. Kelicikan dan kebohongan mulai tampak. Yang diutamakan pada zaman ini adalah pelaksanaan ritual. Asalkan mampu melaksanakan upacara, maka seseorang akan dihormati.
  4. Kali yuga, merupakan zaman kehancuran. Banyak manusia mulai melupakan Tuhan. Banyak moral manusia yang rusak parah. Hukum dan jabatan mampu dibeli dengan uang.
Sesuai dengan karakter pada masing-masing zaman, terdapat hal-hal yang diutamakan, yakni:
  1. Dhyana; bermeditasi, mengheningkan pikiran pada Satya yuga.
  2. Jnyana; belajar, memiliki pengetahuan pada Treta yuga.
  3. Yajnya; mengadakan ritual pada Dwapara yuga. Pada zaman ini, pelaksanaan ritual yang diutamakan.
  4. Dana; memiliki uang, memberi kekayaan, pada Kali yuga. Pada zaman ini, uang dan kekayaan yang paling diutamakan.
Sekarang sudah di Kali Yuga, akan mudah jatuh dan bangkit. Yang kaya akan cepat miskin dan yang miskin akan cepat kaya. Yang bermoral runtuh dan penjahat menjadi orang yang disucikan. Di antara itu masih ada yang setia dengan amanah Leluhur dan membaktikan dirinya kepada evolusi manusia dan alam semesta. Demikianlah jaman Kali!

Tingkatan spiritual manusia berbeda untuk setiap diri. Dharma baktikan diri kepada para Dewa dan jangan berkianat kepada Leluhur. Ingat, Atman pada manusia adalah Brahman!

Penulis: JM Pasek Mukti Murwo Kuncoro
 

Pengurus

Sample image Jro Mangku Panji
Pemangku
Sample image I Gusti Ngurah Suarnita
Ketua
Sample image I Gusti Ngurah Budi
Wakil Ketua
Sample image Kadek Ardi
Sekretaris 1
Sample image I Gede Sukadana
Sekretaris 2
Sample image I Wayan Sudiawan
Bendahara 1
Sample image I Gede Somada
Bendahara 2
Sample image Ni Komang Sumadi
Ketua Dharma Ayu

Hubungi kami

PURI AGUNG DHARMA GIRI UTAMA

Jl. Tegal Harum No 7 Biaung
Denpasar Timur- Bali 80237
Tel: 085 101 868 909
Email:info@dharmagiriutama.org
Web: www.dharmagiriutama.org
 
PURA PUROHITA
Lembah Dusun Benyahe,
Desa Unggahan, Seririt,
Buleleng, Bali.
Jro Mangku Wana
0878-6012-7699
Posisi anda  : Home Artikel Tattwa dan Pencerahan Tantra - Tiga Dasar Dharma