Genah Melukat Astagangga |
![]() |
![]() |
Sejarahnya berawal dari mengunjungi pulau Nusa Ceningan - Nusa Lembongan di mana ada suatu pura yang telah didirikan atas dasar pawisik yang diterima oleh tetua di sana. Para tetua di sana meminta agar mengunjungi dan melakukan komunikasi dan ternyata pura tersebut benar adanya. Nama pura tersebut adalah pura Apit Lawang, petilasan Ki Dukuh Jumpungan manifestasi Dewa Siwa di Nusa Penida. Kemudian melanjutkan perjalanan ke pura Bias Muntig adalah Pura dari Ida Bhatari Sang Ayu Mas Rajeg Bumi, rabi dari Ratu Gede Dalem Ped dan mendapat petunjuk untuk membuat Genah Melukat Astagangga.![]() Kemudian Dewa Bumi memberi petunjuk agar genah melukat dibangun di Timur Laut. Selanjutnya Hyang Mpu Kuturan mengamanahkan agar memakai Asta Kosala Kosali yang mewakili seluruh keberuntungan manusia, dan setiap pancuran mewakili keberuntungan tersebut. Oleh karenanya dibangun mewakili delapan arah, dan diarahkan dengan menggunakan kompas. Keberuntungan tersebut adalah mulai dari jodoh, tidak punya keturunan, kerukunan rumah tangga, rezeki dan kekayaan, jabatan, peningkatan spiritual, sakit, dll. Namun karena ada Sastra pinandita dan pandita, maka pancuran yang ke delapan dikosongkan dari dari taksu agar yang mempunyai sastra dan permohonan khusus bisa memohon di pancuran yang ke delapan. Sebelum sembahyang di Purohita disarankan untuk melukat terlebih dahulu. Dalam melakukan pelukatan terkadang rasa air berbeda-beda, dilaporkan oleh umat yang melukat bahwa ada air rasanya pahit, manis, sepet juga sering salah satu pancuran seperti lengket dan berminyak. Juga terkadang ada bau busuk dan wangi. Kalau terjadi hal seperti demikian maka minumlah terus tirta tersebut sampai tirta kembali tanpa rasa dan bau. Sudah dua kali dilaporkan pancuran hanya memutar di udara dan tidak jatuh seperti biasanya. Kejadian itu disebut Kawean, dan merupakan restu tertinggi dari genah melukat Astagangga. Kalau terjadi kejadian seperti itu janganlah takut dan usahakan mendapat cipratan dari tirta agar mendapat berkah. Pada saat selesainya pemelaspasan genah melukat, pada malam hari terjadi fenomena bintang yang bertaburan di Purohita Pura, melebihi dari keadaan biasanya. Dalam pemahaman kegaiban, itu adalah restu dari Dewi Dhanu. Jikalau di Pura Ulun Dhanu Batur langitnya bertaburan bintang lebih dari biasanya, dan sangat mudah dibedakan, maka itu adalah restu dari Dewi Dhanu. Mulanya sumber air dari genah melukat hanyalah sebesar kelingking, besok harinya, Pinisepuh datang ke sumber air tersebut dan ditepak dengan tangan kanan, seketika itu sumber air membesar berlipat-lipat dan sekarang besar air delapan pancuran adalah sebesar jempol walau pada musim kemarau. |